Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Wed, 06 May 2026 03:13:30 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Pelajaran Katekumenat https://unit./cm/pelajaran-katekumenat/ Wed, 06 May 2026 03:13:29 +0000 https://unit./cm/?p=2926

Pelajaran Katekumenat dibuka….

]]>
Kasihilah Musuhmu https://unit./cm/kasihilah-musuhmu/ https://unit./cm/kasihilah-musuhmu/#respond Sun, 19 Feb 2023 01:00:31 +0000 https://unit./cm/?p=2826 Refleksi 19 Februari 2023

Pada waktu itu disiang hari, aku pulang sekolah berjalan kaki kira–kira jauhnya dari sekolah ke rumah sekitar 2 KM. Aku pulang kesekolah jalan kaki sendiri dan ada teman ku yang melemparkan krikil batu ketangan ku, sehingga membuat amarahku melunjak dan aku merasa kesakitan. Sesampainya aku dirumah, nenek ku bertanya kepada ku. Mengapa kamu menangis cantik? Nenek ku langsung mengusap air mata ku. Aku pun berkata demikian “ada segerombolan anak – anak yang nakal kepada ku, mereka melemparkan batu ke aku, sehingga membuat tangan ku menjadi luka dan berdarah. Padahal aku tidak berbuat nakal kepada mereka”. Lalu nenek ku berkata seperti ini “biarin saja teman mu itu tidak usah di balas”. Tetapi aku tetap merasa jengkel dan kesal dengan perbuatan mereka kepada ku. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba – tiba saja mereka melempar krikil batu kecil yang tajam – tajam kepada ku. Aku sendiri tidak tahu salah ku apa kepada mereka, sehingga mereka berbuat demikian. Setelah melemparkan batu kepada ku, mereka tertawa bahagia melihat aku kesakitan dan menangis. Lalu mereka lari pergi jauh menjahui aku. Disaat itu aku tidak bisa berbuat apa – apa hanya melanjutkan perjalanan balik kerumah dengan keadaan nangis. Akan tetapi setelah nenek ku berkata “tidak usah di balas” aku hanya diam dan aku percaya pasti rencana Tuhan indah kepada ku. Tuhan tahu mana yang baik dan tidak benar.

Seperti pada bacaan hari ini berkisahkan tentang kejahatan. Yang mana didalam bacaan Injil tertulis ungkapan “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Pada ungkapan ini mengartikan bahwa segala sesuatu yang telah tidak ada maka harus digantikan dengan yang setimpal atau dengan yang sesuai juga dengan yang aslinya. Akan tetapi Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan untuk mengasihi dan mencintai musuh. Seperti halnya perumpaan yang dikatakan oleh Yesus yakni apabila ada orang yang menampar pipi kanan maka berilah juga pipi kiri. Maka kita sebagai orang yang menyanyangi dan mencintai sesamanya haruslah berbuat baik demikian sehingga kita dapat meneladankan cinta kasih Allah kedalam diri kita. Bahwasanya diri kita sendiri adalah bait Allah yang mana bait Allah itu adalah suci, mulia, kudus. Sehingga jika melakukan sesuatu kepada diri kita Tuhan pasti tahu. Tuhan sendiri telah mengetahui rencana – rencana kita bahkan sejak awal kita dikandung oleh ibu kita. Tuhan mengetahui bahwa kita mau berbuat apa saja. Tuhan sendiri telah berjanji bahwa jika ada orang yang membinasakan bait Allah maka Allah akan murka dan membinasakan orang yang menghancurkan bait Allah tersebut. Pertolongan Tuhan didalam hidup itu sungguh ajaib. Dia memberi semua apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Maka dari itu hendaknya kita menjaga segala kepunyaan Allah yang mulia dan baik adanya ini dan tidak merusaknya. Apakah aku sudah menjaga bait Allah? Dan jika belum menjaga bait Allah dengan sepenuhnya bagaimana cara  ku menjaga bait Allah itu?

Penulis : Angelina Kusuma Jelita Mawarni
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/kasihilah-musuhmu/feed/ 0
Menjadi Lebih https://unit./cm/menjadi-lebih/ https://unit./cm/menjadi-lebih/#respond Sun, 12 Feb 2023 04:19:21 +0000 https://unit./cm/?p=2822 Refleksi 12 Februari 2023

Matius 5 : 17-37

Adalah sesuatu yang biasa apabila dapat memenuhi apa yang menjadi kewajiban. Tentang berbagai kewajiban yang ada dalam hidupku, memang sudah selayaknya aku berusaha untuk memenuhinya, bertanggungjawab terhadap apa yang seharusnya. Berbagai peran, apapun itu, tentu menyimpan kewajiban-kewajiban. 

Kewajiban itu juga aku miliki sebagai mahasiswa yang memiliki rutinitas untuk mengikuti pembelajaran di kampus. Aku sadar, ketika aku menjadi seorang pembelajar, aku memiliki banyak hal yang harus kupenuhi. Setidaknya, tugas-tugas yang harus aku kerjakan, materi-materi ataupun diktat yang harus aku baca, pemahaman-pemahaman yang harus aku miliki, dan pada akhirnya nanti tugas akhir yang harus aku selesaikan. Aku pun juga melihat kakak tingkatku yang sudah sampai pada tahap-tahap akhir dalam perkuliahannya. Aku mengira, mereka pun memiliki kewajiban yang terwujud dalam rutinitas menulis untuk tugas akhir, membaca banyak referensi, melakukan penelitian, merevisi pekerjaan mereka. Aku merasa memang sudah sepantasnya aku memenuhi kewajiban itu. 

Sampai pada suatu masa aku melihat berbagai loker yang menarik di berbagai platform pencari kerja. Di samping itu aku juga melihat bagaimana orang bisa direkrut dan mendapatkan pekerjaan yang ditawarkan. Konon, yang berusaha mengikuti berbagai organisasi, ambil bagian dalam kesempatan volunteer, dan banyak memiliki pengalaman kerja-lah yang memiliki peluang yang lebih besar untuk direkrut.

Di lain tempat aku melihat bagaimana orang-orang sungguh terkesan pada kisah kebaikan-kebaikan. Aku pun terkesan ketika melihat ada ojek online yang membantu membukakan jalan untuk ambulans yang sedang membawa pasien darurat. Aku pun sungguh terkesan ketika melihat bapak-bapak penjual ketoprak, yang rela memberikan secara cuma-cuma seporsi ketoprak untuk orang yang lapar namun tidak punya cukup uang untuk membayar. 

Rasanya hidup ini terlalu sayang apabila hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Hidup ini menjadi terlalu singkat ketika hanya berkisah tentang memenuhi kewajiban saja. Sebaliknya, hidup ini begitu menjadi berarti ketika mampu untuk melakukan apa yang lebih. Menjadi lebih, membuat kehidupan ini semakin menemukan maknanya. 

Aku menyadari, melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang diminta bukanlah sesuatu yang mudah. Terkadang untuk melakukan yang seharusnya saja bukan hal yang mudah. Namun apabila aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, apalah artiku? Bukankah Tuhan pun kerap kali melakukan yang lebih daripada apa yang aku bayangkan ataupun harapkan? 

Penulis : Nirvana Mulia Sulistya
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/menjadi-lebih/feed/ 0
Terang Bercahaya di Kegelapan https://unit./cm/terang-bercahaya-di-kegelapan/ https://unit./cm/terang-bercahaya-di-kegelapan/#respond Mon, 06 Feb 2023 01:18:47 +0000 https://unit./cm/?p=2818 Refleksi 5 Februari 2023

Diwaktu itu pada malam hari, aku bersama keluarga ku sedang duduk – duduk santai di teras depan rumah sambil menyeruput minuman hangat teh dan kopi serta cemilan roti – roti kering lainnya. Aku sangat menikmati suasana kehangatan pada malam itu. Cahaya bintang – bintang terang benderang menerangi langit dimalam hari nan cerah. Ayah ku bercerita tentang sebuah filosofi cahaya yang kecil jika menjadi banyak maka bisa menerangi sebuah kegelapan. Sama halnya seperti bintang dilangit pada malam hari. Terlihat jelas bintang – bintang bercahaya terang. Walaupun bintang tersebut terlihat sangat kecil dan berkumpul menjadi satu dapat menerangi bagian dunia yang gelap di malam hari ini. Begitu pula dengan cahaya api yang kecil. Seperti api di lilin atau lentera dapat bersahabat dengan kita sebagai penerang saat kegelapan malam. Akan tetapi sangat berbeda jauh dengan api yang besar karena dapat menjadi musuh sehingga menyebabkan kebakaran.

Dalam hal ini kegelapan akan kalah dengan adanya cahaya. Sama seperti halnya Tuhan sendiri telah menciptakan adanya terang yang memisahkan gelap tersebut dengan menggunakan cakrawala sehingga terang itu menjadi baik adanya. Di kehidupan ini terang itu selalu dibutuhkan. Seperti pada tanaman sendiri memerlukan sebuah cahaya untuk dapat melakukan fotosintesis sehingga tanaman tersebut dapat memperoleh makanan atau energi. Akan tetapi cahaya sendiri tidak lengkap jika tidak ada rasa di kehidupan. Agar sesuatu bisa menjadi enak pastinya ketika kita memasak kita membutuhkan garam untuk menjadi pelengkap bumbu – bumbu dapur.

Pada bacaan hari ini mengisahkan tentang terang cahaya, yang mana kita sebagai pembawa terang terhadap sesama. Dan juga menjadi garam yang mana artinya kita dapat memberi atau mewarnai kehidupan dengan rasa sukacita dan damai sejahtera. Melalui tindakan serta perilaku akan berpengaruh pada apa yang kita perbuat baik terhadap sesama dan lingkungan. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kita untuk menjadi terang dan garam dunia. Melalui tindakan kecil dan sederhana dapat membuahkan hasil yang besar. Seperti contohnya ketika aku masih kecil, aku diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Dan alhasil ketika aku melihat sampah berserakan di jalan aku langsung memungut sampah tersebut. Dari kegiatan ini pun terlihat bahwa ajaran tentang membuang sampah pada tempatnya adalah hal yang sangat mudah diterapkan. Sama seperti menjadi terang dan garam kita dapat memberi teladan seperti rajin berdoa, memuliakan Tuhan, mengikuti kegiatan gereja atau komunitas yang ada di gereja yang membuat iman kita menjadi kuat dan dapat memuliakan Bapa di sorga. Sudahkan aku melakukan tindakan – tindakan yang memuliakan Allah di surga? Bagaimana aku dapat menjalankannya? Hal apa saja yang harus aku perbuat agar dapat menjadi terang dan garam dunia?

Penulis : Angelina Kusuma Jelita Mawarni
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/terang-bercahaya-di-kegelapan/feed/ 0
Tak Apa Menjadi Terluka https://unit./cm/tak-apa-menjadi-terluka/ https://unit./cm/tak-apa-menjadi-terluka/#respond Sun, 29 Jan 2023 02:15:40 +0000 https://unit./cm/?p=2803 Refleksi 29 Januari 2023

Matius 5 :1-12a

Aku menyadari bahwa hidup itu satu paket. Aku tidak bisa hanya ingin menerima apa yang menyenangkan dalam hidup ini, tanpa mengalami apa yang bagiku tidak menarik bahkan menyulitkanku. Aku juga menyadari aku tidak bisa hanya ingin menerima apa yang aku dambakan, tanpa menerima perjuangan yang harus aku lakukan. Senyata-nyatanya, hidup adalah tentang menerima kedua hal itu. Apapun rasanya. 

Permenungan ini hadir dalam hidupku ketika aku menjalani masa studiku. Tentu aku mendambakan hal-hal menarik. Ajakan untuk bermimpi setinggi langit tentu aku tanggapi dengan antusias. Angan-angan dan ekspektasi akan cita-cita yang serba indah tentu aku miliki. Aku ingat, aku selalu membuat resolusi tiap awal semester. Kalau kata orang bermimpi itu gratis, rasanya aku punya banyak mimpi-mimpi yang sungguh ingin aku capai. Sebagai seorang mahasiswa dengan segala euforia-nya, aku pun punya keinginan untuk cepat menyelesaikan studiku, mendapatkan nilai yang sangat baik, hingga mendapatkan predikat lulus dengan pujian ketika selesai nanti. Dambaan untuk meraih apa yang baik dan memiliki pencapaian yang gemilang selalu aku miliki, minimal aku memikirkannya sebelum aku tidur, dia atas bantal, di pojok kamarku. 

Mendamba, memiliki angan-angan, membayangkan tentang hidup yang berhasil memiliki pencapaian memang hal yang indah. Memiliki angan-angan semacam itu lalu membuatku membentuk bayangan bahwa diriku akan mencapai apa yang aku cita-citakan. Rasanya, seperti aku bisa melihat diriku di masa yang akan datang dengan semua harapan yang baik. 

Kenyataan membuatku menyadari, kendati memiliki angan dan bayangan-bayangan yang baik itu menyenangkan, tetap saja itu belum menjadi nyata. Tetap saja itu adalah bayangan. Kenyataan juga membuatku menyadari, bahwa hidup dan berjuang tidak semudah dan seindah ada dalam  bayangan ataupun angan. 

Dalam perjalanan studiku, aku kerap menemukan pengalaman-pengalaman yang sama sekali tidak mudah, setidaknya bagi diriku sendiri. Kerap kali aku merasa bosan untuk membaca buku, mencari jurnal, membuat catatan. Kadang aku pun kehilangan motivasi, dan bertanya, untuk apa dan sampai kapan aku harus begini. Kadang aku merasa frustasi dan jengkel dengan rekan kelompok yang tidak mau bertanggung jawab atas pekerjaan bersama. Membuatku merasa sendiri, berjuang sendiri. Terkadang aku harus menahan diriku untuk menghemat uangku agar bisa sedikit-sedikit menabung, entah untuk apapun kelak. Terhadap teman-temanku yang belum mengerti tentang apa yang mereka pelajari, kadang aku pun perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka dan menemani mereka dalam belajar juga. Terhadap lingkungan pertemanan yang penuh rasan-rasan, aku harus menahan diri untuk tidak ikut ngompor-ngomporin. Pernah aku jatuh sakit, dan tidak bisa mengikuti ujian. Harus mengurus ujian susulan yang tidak mudah, melelahkan. 

Ya memang, kenyataan memang membuatku tersadar bahwa cita-cita selalu menuntut perjuangan. Bayang-bayang hanya akan menjadi sebuah halusinasi ketika tidak ada perjuangan. Dan perjuangan tidak selalu menyimpan hal yang mudah. Dalam permenunganku, aku lantas menyadari bahwa memang perjuangan semacam ini harus aku terima. Bukankah ini sebuah perwujudan untuk meng-iman-i, dan untuk meng-amin-i apa yang diajarkan dalam sabda bahagia? Untuk berbahagia ketika menjadi orang yang murah hati, berbahagia ketika berjuang untuk membawa damai. 

Ya memang, kenyataan memang membuatku tersadar bahwa cita-cita selalu menuntut perjuangan. Bayang-bayang hanya akan menjadi sebuah halusinasi ketika tidak ada perjuangan. Dan perjuangan tidak selalu menyimpan hal yang mudah. Dalam permenunganku, aku lantas menyadari bahwa memang perjuangan semacam ini harus aku terima. Bukankah ini sebuah perwujudan untuk meng-iman-i, dan untuk meng-amin-i apa yang diajarkan dalam sabda bahagia? Untuk berbahagia ketika menjadi orang yang murah hati, berbahagia ketika berjuang untuk membawa damai. 

Ajakan untuk “berbahagia” bukan ajakan yang menutup mata terhadap perjuangan yang dialami. Ajakan untuk “berbahagia” tentu menjadi ajakan untuk memiliki sikap tabah terhadap perjuangan yang tidak selalu mudah dalam hidupku. Terhadap hal-hal yang sulit, bukankah aku diajak untuk memaknai itu sebagai bagian dari perjalananku? Bukankah hal yang membahagiakan karena aku boleh memiliki perjuangan semacam itu? Bukankah suatu yang membahagiakan untuk bisa berjuang dan mengalami berbagai hal dalam perjuangan itu, dan boleh berharap bahwa perjuanganku nanti akan menghasilkan buah-buah dalam hidupku? Dan bukankah sesuatu yang membahagiakan, karena dengan mengalami perjuangan dan penderitaan yang ada aku boleh memiliki dan menghidupi arti sebuah harapan? 

Aku mengamini, bahwa namanya perjuangan tentu tidak ada yang mudah. Di atas semua, aku pun ingin memiliki ketabahan, karena boleh berjuang berarti boleh berharap. Tak apa menjadi lelah, tak apa terkadang merasa hilang arah, tak apa menjadi lapar, tak apa menjadi terluka, terjatuh, hingga terkulai. Sesuatu yang membahagiakan karena aku boleh mengalami semua itu sebagai perjuangan hidupku. Bukankah Tuhan sendiri harus rela wafat di salib untuk karya keselamatan? 

Penulis : Nirvana Mulia Sulistya
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/tak-apa-menjadi-terluka/feed/ 0
Berjalan Bersama Tuhan https://unit./cm/berjalan-bersama-tuhan/ https://unit./cm/berjalan-bersama-tuhan/#respond Sun, 22 Jan 2023 01:00:09 +0000 https://unit./cm/?p=2812 Refleksi 22 Januari 2023

Di setiap kehidupan, alangkah baiknya dapat melangkah maju dari kehidupan sebelumnya. Selama memiliki tekad kuat dan keinginan untuk mencapai sesuatu, pasti tidak ada yang mustahil. Pastinya untuk dapat menggapai suatu pencapaian tersebut membutuhkan Tuhan sebagai campur tangan Dia dalam hidup.

Untuk dapat memperbaharui diri, lebih baik keluar dan meninggalkan zona ternyaman dan terjun ke tempat yang luas dan jauh dari tempat biasa kita. Aku pernah mengalami fase ini di saat aku ingin hidupku mandiri. Seperti hal nya di saat aku berkuliah. Aku memilih untuk berkuliah jauh dari orang tua ku, jauh dari rumah tempat tinggalku. Aku sendiri mau tak mau harus siap untuk mengambil segala resiko yang terjadi seperti ketika sakit berobat sendirian ke klinik, biasanya di rumah ditemani oleh ibu yang mengantarkan aku berobat, ada ibu yang selalu membuat masakan enak untuk aku, dan di rumah pastinya terasa nyaman. Akan tetapi hal tersebut harus aku tinggalkan agar aku menjadi individu yang lebih mandiri dan dapat berkembang lebih baik. Pernah terbayang di benakku ketika aku lulus SMK dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu ke perguruan tinggi pasti aku merasa sepi hidupku, dikarenakan tidak ada keluarga atau orang terdekatku yang dapat menamani aku kelak. Bayangan ketakutan selalu menghampiri pikiranku.

Namun aku menyadari bahwa aku memiliki Tuhan Yesus yang selalu ada dan berjalan bersama ku di dalam hidupku. Aku menyerahkan sepenuhnya kehidupanku ke dalam tangan-Nya. Dalam perjalanan kehidupanku mengikuti Yesus, aku menyadari bahwa aku tidak berjalan sendirian akan tetapi aku dipertemukan oleh Tuhan kepada saudara – saudari di dalam suatu komunitas yang dapat membangun kehidupan ku lebih dekat kepada-Nya. Melalui hidup berkomunitas aku mendapatkan dorongan kehidupan jasmani maupun rohani yang dapat mendorong aku bergerak maju pada suatu perubahan di dalam hidupku. Dan pastinya aku menerima roh kudus di dalam hidupku yang telah membuat aku bisa melanjutkan perjalanan kehidupan ku.

Pada ayat hari ini mengajak kita agar kita dapat menaruh kepercayaan kepada-Nya dan sepenuh-Nya jalan bersama-Nya. Sehingga kita dapat meninggalkan kehidupan kita yang dahulu dan melanjutkan perjalanan kehidupan yang baru. Yesus sendiri memberi janji bahwa jika kita mengikutinya akan dijadikan “Penjala Manusia”. Ini berarti kita memiliki peran penting menjadi pewarta kasihnya dan menjadi cahaya terang Kristus bagi orang – orang di sekitar kita. Dengan mengikuti Yesus dan percaya kepada-Nya semua rintangan akan terlewati dan berani bertanggungjawab atas hidup kita sendiri. Menjadi pengikut Kristus akan menemukan tujuan dan makna atas hidup kita sendiri yakni betapa berharganya kita di mata Tuhan. Hidup ini adalah kesempatan yang mana menjadi alat untuk karya Tuhan. Apakah aku mau menjadi alat Tuhan? Bagaimana cara ku untuk dapat keluar dari zona nyaman?

Penulis : Angelina Kusuma Jelita Mawarni
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/berjalan-bersama-tuhan/feed/ 0
Dalam kendali-Mu Kuserahkan Aku https://unit./cm/dalam-kendali-mu-kuserahkan-aku/ https://unit./cm/dalam-kendali-mu-kuserahkan-aku/#respond Sun, 15 Jan 2023 01:00:52 +0000 https://unit./cm/?p=2794 Refleksi 15 Januari 2023

Kalau aku boleh bersaksi tentang hidup ini, konon hidup ini adalah tentang hal yang bisa aku kendalikan, dan tidak aku kendalikan. Aku pun mendengar, untuk menjalani hidup, aku  hanya perlu fokus dengan apa yang bisa kukendalikan, dan melupakan apa yang di luar kendaliku. Sesuatu yang mengesankan pikiranku, setidaknya waktu itu. 

Bertahun-tahun lamanya aku percaya itu : berjuang dalam hidup cukuplah fokus dengan apa yang bisa aku kendaliku. Apa yang di luar kendaliku, mungkin tak kupikirkan. Apa yang di luar kendaliku, ya mungkin itu hanya akan berlalu saja. Tetapi terhadap apa yang bisa aku kendalikan, tentu aku akan mengusahakannya. Konon, kepercayaan semacam ini juga di-iman-i agar orang menjadi cepat sukses. Setidaknya pada tahun-tahun yang lalu aku percaya, bahwa letak kendali lebih ada pada dalam diriku. Aku mendapatkan nilai yang baik karena aku belajar dengan amat tekun. Aku akan bahagia karena aku berjuang hingga mendapat apa yang aku inginkan. Aku percaya, hidup ini adalah bagaimana aku melakukan sesuatu dalam hidupku. Tidak salah, bukan? Dengan konsep itu, hidup dan diri sendiri tampak lebih heroik. Mengagumkan, bukan? Dengan konsep hidup semacam itu, aku melihat, betapa hidup ini dapat diperjuangkan dengan sangat rasional, dan terkendali. 

Hingga pada suatu masa aku memiliki pengalaman sakit. Harus beristirahat, rebah karena  tubuh yang lemas, dengan  tangan yang terinfus. Tinggal di tempat yang jauh dari orang tua tentu dipaksa untuk berdamai dengan kesendirian. Termasuk sendiri ketika terbaring di rumah sakit. Apa yang seharusnya menjadi kesibukan waktu-waktu itu tentu tidak bisaku kerjakan. Paper-paper yang harusnya aku buat tentu harus kutinggalkan sejenak. Minimal aku tunda dulu. Kukerjakan nanti pelan-pelan. Rutinitas dan beberapa to-do-list kantor tentu juga aku tunda. Waktu itu yang bisa menjadi kendaliku hanyalah rebah, makan, dan istirahat, sambil terkadang berusaha menata ulang agenda setelah sakit, kendati hanya dalam pikiran. Tidak lebih, hanya itu yang bisa kulakukan. Hanya itu yang ada dalam kendaliku. 

Pengalaman sakit tentu bukan hal yang gampang diterima untuk orang yang memiliki kepercayaan bahwa hidup ini disebabkan oleh kendali diri sendiri. Tentu penyebab sakit akan cenderung dimaknai sebagai kesalahan diri sendiri. Ah mungkin bisa lebih luas lagi, pengalaman-pengalaman terjatuh lainnya pun juga begitu. Tentu akan cenderung dimaknai sebagai kegagalan diri sendiri. Tentu tidak mudah untuk diterima, dan inilah yang terjadi. Pengalaman yang sangat tidak aku sukai, namun inilah yang ternyata mengubah bagaimana aku bersaksi tentang hidup ini. 

Dalam pengalaman yang membuat aku banyak kehilangan kendali atas apa yang seharusnya kukerjakan itulah, aku menyadari, ada kendali lain yang hadir dalam hidupku. Kelompokku begitu pengertian dengan keadaan sakitku, dan tidak memaksaku untuk mengerjakan sampai tuntas, sebisanya. Akhirnya tugas-tugasku pun selesai juga. Bahagiaku tumbuh ketika dikunjungi oleh teman-temanku. Ternyata bahagiaku tidak melulu ada hanya karena aku mencari kesenangan. Aku berangsur membaik dengan upaya dokter memberikan obat-obat dan rekomendasi yang tepat. Ternyata sehatku tidak hanya karena aku yang mau berbaring istirahat saja. Yang paling penting : aku menjadi sadar, ternyata hidup ini bukan hanya bagaimana aku saja. 

Kalau boleh aku bersaksi tentang hidup ini, ternyata tidak semua ada pada perjuanganku. Tak hanya kendaliku, tak hanya usahaku. Begitu sempit bila aku memaknai untuk berhenti pada apa yang bisa aku kendalikan. Fokus pada apa yang bisa kukendalikan memang tidak salah, demi alasan ketenangan dan usaha berdamai dengan kecemasan, mungkin itu hal yang tidak salah. Tetapi aku pun menyadari. Ada kendali yang lebih besar dari pada apa yang bisa kukendalikan. Tuhan yang maha memahami itu hadir dalam ikut berkarya dan mengendalikan hidupku. 

Tuhan, kalau boleh aku bersaksi tentang hidup ini, aku pun ingin bersaksi tentang Tuhan yang menyelamatkan. Seperti Yohanes Pembabtis yang bersaksi : “Dia inilah Anak Allah”, aku pun ingin bersaksi, bahwa aku pun melihat dan ingin terus dapat melihat Engkau dalam hidupku. Dalam pengalaman-pengalaman yang ada dalam kendali-Mu, dalam pengalaman sederhana, dalam pengalaman cinta maupun luka. Kalau boleh aku bersaksi, Engkau inilah Anak Allah!

Penulis : Nirvana Mulia Sulistya
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/dalam-kendali-mu-kuserahkan-aku/feed/ 0
Penuh Sukacita https://unit./cm/penuh-sukacita/ https://unit./cm/penuh-sukacita/#respond Sat, 07 Jan 2023 17:00:17 +0000 https://unit./cm/?p=2788 Refleksi Minggu, 8 Januari 2023

Kehadiran seorang bayi adalah hal yang sangat dinanti-nantikan dalam suatu keluarga. Seorang bayi mungil hadir membawa kebahagiaan tampak dari seri raut wajah sang anak. Ketika aku duduk di kereta melihat seorang ibu yang menggendong sang anak dan aku menatap wajah mungil sang bayi tersebut yang mana mata hitam yang berseri – seri bercahaya dan tubuh yang kecil, membuat aku merasa senang melihat kehadirannya. Aku pun bertanya kepada ibu itu usia sang anak sekitar sepuluh bulan. Jika sang anak tersebut tertawa maka dunia terasa pecah dengan kebahagiaanya.

Disaat aku masih kecil, keluarga ku merayakan pesta ulang tahunku, dan aku mendapatkan banyak kado – kado dari teman – teman. Betapa bahagianya aku mendapatkan hadiah – hadiah tersebut. Setiap anak kecil yang lahir pasti dikunjungi oleh kerabat atau orang – orang di sekitarnya untuk melihat sang anak tersebut, juga pastinya datang membawa kado dan memberi ucapan selamat kepada keluarga karena kehadiran seorang anak ditengah – tengah mereka.

Seperti halnya pada hari ini kita bersama – sama merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan kita, yang dikatakan dalam bacaan hari ini, orang – orang majus melihat kehadiran bintang dari timur berada diatas sang Anak itu bersama Maria. Sehingga orang majus memberi persembahan kepada sang Anak berupa Emas, Kemenyan, dan Mur. Persembahan yang dibawa oleh orang – orang majus tersebut melambangkan pada tiga tugas atau pekerjaan utama Yesus yakni Imam, Raja, Nabi. Masing – masing persembahan memiliki artinya yaitu Emas adalah sebagai hadiah untuk seorang Raja diatas segala Raja dan memerintah dengan cinta kasih. Kemenyan melambangkan seorang Imam dan disaat acara peribadatan seorang Imam menggunakan kemenyan untuk wewangian. Hal ini menunjukan kemuliaan Tuhan yang mana mengantarkan umat manusia kepada-Nya. Terakhir adalah Mur yang melambangkan bahwa Yesus Kristus hadir ditengah – tengah kita dan Dia akan mati untuk kita, yang mana menebus semua dosa – dosa kita. Mur adalah hadiah bagi orang mati yang dipakai untuk membalsem jenasah pada zaman dahulu.

Pada zaman pemerintahan raja Herodes semua bayi laki – laki harus dilenyapkan dari muka bumi ini dikarenakan Herodes tidak mau ada seorang anak laki – laki yang dapat menggantikan kuasa dirinya sebagai seorang Raja. Maka Herodes menyuruh orang – orang majus membawa hadiah kepada sang bayi Juruslamat untuk membawa bayi tersebut menemuinya. Akan tetapi orang majus tersebut menyuruh untuk pergi jauh dan tidak menemui Herodes.

Terkadang didalam hidup ini kita pasti saja bertemu dengan orang yang berhati seperti Herodes yang mana tidak ingin ada orang lain yang dapat bersaing dengan dirinya, atau pun tidak ingin ada orang lain yang lebih maju. Maka dari itu kita pastinya selalu diingatkan seperti cerita Herodes ini untuk mengambil jalan lain, yang mana jalan yang penuh kedamaian dan sukacita. Apakah aku sudah siap bertemu dengan orang yang berhati seperti Herodes? Bagaimana aku dapat meneladani hidup Kristus didalam hidupku?

Penulis : Angelina Kusuma Jelita Mawarni
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/penuh-sukacita/feed/ 0
Bukan Tentang Keharusan https://unit./cm/bukan-tentang-keharusan/ https://unit./cm/bukan-tentang-keharusan/#respond Mon, 02 Jan 2023 02:42:38 +0000 https://unit./cm/?p=2786 Refleksi Awal Tahun 2023

Mungkin bagi sebagian orang, hidup adalah cerita tentang keharusan. Harus mencapai ini dan itu, harus bisa, harus sesuai. Mencapai sebuah keharusan adalah sesuatu yang baik. Mencapai sebuah keharusan adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam beberapa kurun waktu peristiwa dalam hidupku, aku pun memiliki pemaknaan hidup semacam itu. Hidup adalah rangkaian tentang keharusan. Aku harus meraih yang terbaik dalam belajarku, aku harus bisa lebih dari orang lain, aku harus menang dalam berkompetisi, aku harus hidup tertata, dan pada beberapa peristiwa, aku merasa bahwa aku harus selalu bahagia, harus selalu gembira, harus selalu semangat. Hidup adalah kumpulan cerita tentang keharusan.  

Hingga pada suatu masa aku mengalami peristiwa hidup yang berbeda. Kenyataan yang aku miliki seolah-olah berlawanan dengan apa yang menjadi makna hidupku. Dalam bidang akademis, aku mengalami penurunan nilaiku. Sering aku tidak mengerti apa yang aku pelajari, ataupun apa yang disampaikan oleh guruku. Sering aku tidak dapat mengerjakan dengan baik ujian-ujian yang harus aku hadapi. Dengan peristiwa itu, aku merasa bahwa aku jauh dari pemaknaan akan hidup yang baik yang aku miliki. Aku jauh dari pencapaian bahwa aku harus mencapai nilai yang baik, bahwa aku harus mengerti semua apa yang aku pelajari, bahwa aku harus mengerjakan ujian yang kuhadapi dengan baik. Ada dalam suatu masa pula, aku mengalami kenyataan bahwa aku tidak lolos program beasiswa bergengsi. Tentu, aku merasa hidupku, lagi-lagi, jauh dari pemaknaan yang selama ini aku miliki. “harusnya” aku dapat lolos dan meraih program beasiswa yang bergengsi itu. Tetapi ternyata tidak. aku jauh dari satu keharusan lagi dalam hidupku. Pada suatu masa pula, aku menemukan diriku begitu terpuruk dalam kesedihan, dalam keresahan. Merasa berantakan, merasa banyak sekali yang harus dikerjakan, merasa bosan, gamang, cemas, dan hampa. Seperti merasa aku tidak memiliki semangat untuk menjalani, merasa bahwa aku begitu bosan dan kehilangan gairah dalam menjalani yang harusnya aku perjuangkan. Semakin jauh dengan standar pemaknaan hidup yang ideal bukan? Di kala aku merasa bahwa hidup adalah cerita tentang keharusan, harus selalu semangat, harus selalu gembira, harus bahagia, harus bisa bergairah, tentu aku merasa diriku kehilangan makna. Begitu lemah, dan merasa hidupku adalah sesuatu yang tidak hidup. 

Hingga pada suatu masa aku teringat seorang temanku yang sangat sering berkata ya ndak apa apa. Apapun masalahnya, apapun keluhan yang aku ceritakan, rasanya selalu dijawab dengan ya ndak apa-apa. Sangat terbalik dengan apa yang aku maknai tentang hidup ini, hidup yang penuh keharusan. Aku renung-renungkan, jawaban ya ndak apa-apa itulah yang mengubahku. Lelah juga memaknai hidup sebagai cerita yang melulu tentang keharusan. Hidup rasanya menjadi tegang. ke-tidak-apa-apa-an yang hampir selalu diucapkan temanku itu membuatku belajar, bahwa disamping memperjuangkan yang baik, bukankah aku juga perlu belajar untuk menerima sesuatu yang mungkin belum sesuai dengan targetku? 

Nyatanya, setahun ini aku juga mengalami jatuh bangun. Apabila aku memaknai hidup hanya melulu tentang sebuah keharusan, mungkin aku akan kehilangan makna hidupku. Karena, tidak semuanya melulu tentang keharusan. Adakalanya, hidup adalah tentang penerimaan, pengampunan, dan ketabahan. 

Pada awal tahun, tanggal 1 Januari, Gereja merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah. Bersama perayaan itu, dan dengan apa yang terjadi dalam hidupku, aku pun merenungkan, bukankah Bunda Maria pun adalah sosok Ibu yang penuh penerimaan, pengampunan, teladan ketabahan, namun juga pengharapan? bukankah Bunda Maria juga menjadi figur yang dekat dengan anak-anaknya, mampu mengenali perjuangan anak-anaknya, selalu terbuka pada anak-anaknya yang terluka, mampu memahami, dan memberikan ketabahan? Hidup Bunda Maria pun juga hidup yang penuh dengan penerimaan. Mau menerima apa yang menjadi kehendak Allah, bukan mengharuskan apa yang menjadi kehendak pribadinya yang terjadi. 

Maka, tahun ini pun aku ingin memaknai hidupku lebih dalam. Hidup tidak lagi melulu tentang keharusan. Tetapi hidup juga bercerita tentang bagaimana aku menerima segala apa yang terjadi. Menjadi tenang, tabah, menerima, namun tetap berpengharapan. Dengan pemaknaan ini, mungkin aku dapat menjalani hidupku lebih tenang. Mungkin tidak selalu senang, namun mungkin aku akan menjadi lebih terbuka pada apapun yang dianugerahkan untuk aku alami. 

Penulis : Nirvana Mulia Sulistya
Student Staff Campus Ministry

]]>
https://unit./cm/bukan-tentang-keharusan/feed/ 0
Terang Damai Sukacita Natal https://unit./cm/terang-damai-sukacita-natal/ https://unit./cm/terang-damai-sukacita-natal/#respond Sun, 25 Dec 2022 23:12:01 +0000 https://unit./cm/?p=2778 Refleksi Hari Raya Natal, 25 Desember 2022

Pada tahun 2022 ini, adalah tahun dimana semua aktivitas kembali ke new normal. Setiap orang dapat melakukan aktifitas seperti biasa tanpa terikat bekerja dari rumah (work from home). Tahun ini juga adalah perayaan natal yang sangat istimewa. Mengapa disebut istimewa? Dikarenakan setiap gereja–gereja atau pun lampu–lampu di jalanan dipenuhi dengan dekorasi ornament natal yang sangat meriah.

Disaat aku duduk di kursi gereja, aku termenung sendirian. Betapa asyiknya setiap orang datang untuk misa ke gereja bersama dengan keluarga, teman, dan saudara, juga tak jarang aku melihat ada seseorang datang ke gereja sendirian. Di sudut–sudut kursi gereja terisi penuh dengan para umat yang hadir untuk mengikuti perayaan ekaristi.

Ketika selesai misa, pastinya umat yang datang kegereja pasti berswafoto untuk mengabadikan moment tersebut. Orang tua foto bersama anaknya, sang anak berfoto dengan teman – temannya, dan begitu sebaliknya. Lain halnya ketika aku datang kegereja sendirian. Keinginan ku ingin berfoto dengan orang tua seperti anak pada umumnya tidak bisa. Sekarang aku sedang berada jauh dengan orang tua ku karena aku sedang menuntut ilmu di negeri orang. Hanya teman – temanlah yang membuat aku bisa tertawa dan bahagia. Akan tetapi tak jarang aku merasa hidup ku sunyi dan sepi. Suatu ketika, pada saat aku selesai berdoa di gereja, seorang nenek menyapa aku untuk mengatakan “Selamat Natal dan damai menyertai kita” seketika aku merasa bahagia bisa melihat seorang nenek yang menyapa aku dengan berkata demikian. Aku merasakan damai sukacita natal dengan diberikan adanya kehadiran orang – orang terkasih di sekitarku. Terdapat banyak berkat yang telah aku terima di sepanjang tahun penuh ini. Salah satu berkat yang masih boleh aku terima dan aku syukuri pada saat ini adalah aku diberi bernafas kehidupan dengan gratis dalam keadaan sehat dan bisa merasakan hari raya natal di tahun 2022 ini.

Hari ini adalah hari raya natal yang mana seluruh gereja katolik diseluruh penjuru dunia sedang merayakan hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan kita Yesus kristus telah memberikan bukti cinta kasihnya yang sangat besar kepada kita. Ia lahir di palungan dengan penuh kesederhanaanya. Sekarang cahaya terang kasih, damai dan sukacita natal telah hadir ketengah – tengah hidup kita menyertai setiap langkah kehidupan, juga membawa pembaharuan diri menjadi manusia yang baru.  Apakah aku sudah siap dengan kehadiran-Nya akan membawa perubahan baru di kehidupan ku? Bagaimana aku dapat menjalani menjadi pribadi yang baru sesuai dengan Tuhan inginkan?

]]>
https://unit./cm/terang-damai-sukacita-natal/feed/ 0