universitas sanata dharma – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm Unit Pelayanan Pastoral dan Pengembangan Kerohanian Kampus Fri, 12 Nov 2021 11:57:29 +0700 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.2 https://unit./cm/wp-content/uploads/2019/01/cropped-icon-32x32.jpg universitas sanata dharma – Campus Ministry Universitas Sanata Dharma https://unit./cm 32 32 Perhentian 3 “Pemimpin untuk Sesama” https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/ https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/#respond Fri, 12 Nov 2021 11:42:23 +0000 https://unit./cm/?p=2692 lanjut

]]>
Berziarah Bersama Ignatius Loyola

Dewi Santika adalah seorang presiden mahasiswa di Universitas Sanata Dharma. Dewi adalah mahasiswa yang ingin menjadikan dirinya itu berguna untuk sesama, terutama di dalam kehidupannya sebagai mahasiswa. Mahasiswi berdarah Medan ini ingin membuktikan bahwa seorang perempuan juga dapat menjadi pemimpin yang baik.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Link untuk menonton dibawah ini

https://youtu.be/m5h7_kVo59o

]]>
https://unit./cm/perhentian-3-pemimpin-untuk-sesama/feed/ 0
Perhentian 2 “Kutemukan Tuhan dalam Sesama” https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/ https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/#respond Tue, 09 Nov 2021 11:18:38 +0000 https://unit./cm/?p=2682 lanjut

]]>
Berziarah Bersama Ignatius Loyola

Okta merupakan mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia mengalami suatu peritiwa perjumpaan, sehingga membuat ia ingin berubah menjadi Okta yang lebih baik lagi. Okta yang semula merupakan mahasiswa yang kurang aktif, namun saat ia berjumpa dengan teman-temannya ia mengalami sebuah dorongan untuk berubah. Dan akhirnya sekarang Okta menjadi mahasiswa yang aktif dan menemukan dirinya yang seutuhnya.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Link untuk menonton dibawah ini:

https://youtu.be/2iDdC_qBjH4

]]>
https://unit./cm/perhentian-2-kutemukan-tuhan-dalam-sesama/feed/ 0
Perhentian 1 “Hidup yang Dibarui dalam Tuhan” https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/ https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/#respond Fri, 05 Nov 2021 11:29:39 +0000 https://unit./cm/?p=2673 lanjut

]]>
“Berziarah Bersama Ignatius Loyola”

Widia adalah seorang mahasiswi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam kehidupannya, dia mengalami sebuah transformasi yang mendewasakan. Ia rela meninggalkan kenyamanan sebagai seorang “Gusti” di Bali untuk mengeksplorasi dirinya di tempat yang baru.

Seri dokumenter ini diproduksi oleh Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dalam rangka memperingati 500 tahun pertobatan St. Ignatius Loyola.

Klik link berikut untuk memasang reminder: https://youtube.com/c/CampusMinistryUSD

Connect with us on social media:

YouTube: https://youtube.com/c/CampusMinistryUSD
Instagram: https://instagram.com/campusministryusd?utm_medium=copy_link
Twitter: https://twitter.com/cmsanatadharma?t=15nE4xzJlSnglCQaX2bWlQ&s=08
Facebook: https://facebook.com/cm.usd
Tiktok: https://vt.tiktok.com/ZSejWACyx/

Klik link dibawah untuk menonton:

https://youtu.be/2MNvhM99N6s

]]>
https://unit./cm/perhentian-1-hidup-yang-dibarui-dalam-tuhan/feed/ 0
SANG SULTAN SERTA SANG SANTO https://unit./cm/sang-sultan-serta-sang-santo/ https://unit./cm/sang-sultan-serta-sang-santo/#respond Thu, 09 Jan 2020 02:00:13 +0000 https://unit./cm/?p=2430 lanjut

]]>
KETERBUKAAN HATI UNTUK BERDIALOG DAN MENEMUKAN AUTETISITAS

Tidak kurang dari 800 tahun yang lalu, ada sebuah peristiwa besar di muka bumi ini yang mengubah dunia dan tercatat dengan baik dalam garis waktu. Peristiwa tersebut telah merenggut banyak jiwa tanpa mengenal belas kasih serta menimbulkan konflik yang berkepanjangan, bahkan masih bisa dirasakan hingga hari ini. Peristwa itu adalah sebuah peristiwa kemanusiaan karena latar belakang agama, sosial ekonomi, dan politik, yaitu Perang Salib (Pradana, 2019). Seperti yang tercatat dalam sejarah, Perang Salib terjadi dalam delapan hingga sembilan kali pertempuran antara pasukan Kristiani dan Islam. Perang ini terjadi sejak awal abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-13 masehi, di berbagai negara di Eropa dan Timur Tengah (Pradana, 2019).

Hampir semua dari kita seharusnya pernah mendengar, walau hanya sekilas, tentang peristiwa Perang Salib ini. Saya adalah salah satu orang pada awalnya hanya mengetahui sedikit sejak mengenal sejarah dan agama di bangku sekolah. Peristiwa itu pun tidak dibahas secara resmi sebagai materi mata pelajaran yang bersangkutan, sehingga nasib saya mungkin sama seperti kebanyakan orang yang hanya mengenal kulit peristiwa ini.

Ketika mendengar peristiwa Perang Salib, otomatis pikiran saya mengasumsikan bahwa ini hanyalah perang pasukan Kristiani pada masa itu untuk merebut Yerusalem dari tangan kesultanan Islam. Perang itu berakhir hanya dalam hitungan hari atau bulan. Dan sebagai seorang Nasrani, waktu itu dengan percaya diri saya meyakini bahwa perang itu dimenangkan oleh pasukan Kristiani dengan merebut Tanah Suci. Hal terakhir yang saya ingat adalah pesan guru saya, bahwa Gereja sebaiknya tidak campur tangan dalam politik agar tidak menimbulkan peristiwa serupa.

Sekarang, ketika saya merasa lebih terbuka dengan arus informasi, saya baru menyadari jika semua pemahaman saya itu masih sangat dangkal dan bahkan ada yang keliru. Pertama, terjadinya Perang Salib, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bukan semata-mata tentang agama dan perebutan Tanah Suci Yerusalem, tetapi ada unsur politik serta sosial ekonomi yang menyertainya (Pradana, 2019). Kedua, perang ini tidak selesai dalam hitungan hari ataupun bulan seperti yang saya bayangkan. Perang ini bahkan memakan waktu berabad-abad dan menyebabkan banyak kematian. Ketiga sekaligus terakhir, pasukan Kristiani hanya menang dalam beberapa perang kecil sebagai rangkaian Perang Salib yang begitu besar. Itu artinya, kebanggaan saya akan pasukan Kristiani sekarang ini memudar begitu saja karena ternyata kaumku ketika itu kalah telak bahkan kehilangan kekuasaan di Timur Tengah.

Melihat peristiwa perang yang begitu besar, saya menggarisbawahi satu hal yang muncul dalam benak saya. Hal itu adalah ambisi untuk saling melenyapkan menjadi satu-satunya cita-cita yang muncul ketika itu. Ambisi yang sama sekali menghilangkan peradaban kasih dan menggantinya dengan peradaban kelam, khususnya bagi Gereja. Ambisi ini pula yang membuat saya bergidik ngeri membayangkan orang-orang yang harus menghadapi peperangan sepanjang hidupnya.

Beruntung dalam satu kesempatan mengikuti diskusi dengan Campus Ministry Universitas Sanata Dharma dan Youth Interfaith Peace Community Yogyakarta, saya diselamatkan dari pemikiran negatif tentang Perang Salib yang serba mengerikan. Diskusi itu dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2019, dengan tema “Meneladan Dialog St. Fransiskus Assisi.” Karena diskusi tersebut, saya tergerak untuk menuliskannya dalam essay ini sebagai jawaban atas tantangan kaum milenial untuk mewujudkan peradaban kasih. Ya, dialog bagi saya saat ini menjadi tantangan bagi kaum muda untuk membangun rumah bersama dengan orang-orang di sekitar kita. Lalu, apa hubungannya Santo Fransiskus Assisi dengan Perang Salib dan dialog untuk mewujudkan peradaban kasih? Mari saya ceritakan permenungan saya.

Perang Salib, yang berkecamuk begitu panjang, telah menorehkan luka yang cukup dalam bagi kedua belah pihak yang terlibat, Kristen Katolik dan Islam. Sayangnya, luka itu terus ada hingga masa sekarang dalam wujud perang terselubung, yaitu prasangka. Banyak orang Islam menganggap kelompok Kristen Katolik adalah orang kafir. Tidak sedikit pula orang Kristen Katolik menganggap orang Islam adalah teroris yang harus dihindari. Saya bahan meyakini jika peristiwa ini, perang masa kini, akan terus terjadi sampai waktu yang tidak dapat diprediksi.

Akan tetapi, di tengah-tengah peristiwa mengerikan itu, ternyata ada sebuah cerita yang cukup manis terjadi antara Kristen Katolik dengan Islam. Peristiwa sederhana yang menentramkan hati siapapun yang melihat dan memahaminya. Peristiwa itu adalah dialog antara Sultan Malik al-Kamil, pemimpin pasukan Islam, dengan Santo Fransiskus, biarawan Katolik miskin dari Assisi. Uniknya, dialog itu terjadi di tengah-tengah terjadinya Perang Salib yang kelima di Damietta tahun 1219 masehi.

Dari sekian banyak literasi yang diterbitkan, kita akan lebih mudah menemukan kisah hidup Santo Fransiskus Assisi daripada Sultan Malik al-Kamil. Santo Fransiskus Assisi adalah santo yang besar dan berpengaruh bagi Gereja Katolik. Ia lahir di Assisi, Italia dengan nama Giovanni Pietro di Bernardone. Ayahnya adalah seorang saudagar kaya. Karena perang yang terus berlangsung, membuatnya terpikat untuk menjadi seorang ksatria. Sayangnya, pasukan Assisi mengalami kekalahan ketika melawan Perugia tahun 1203. Ia ditawan selama satu tahun. Begitu dibebaskan, ia mengalami banyak perubahan, salah satunya adalah keinginanya untuk mengarahkan diri pada Tuhan. Sejak saat itu, banyak karya-karyanya dibaktikan bagi orang-orang miskin, sekalipun dia sendiri sebenarnya juga miskin, atau lebih tepatnya memiskinkan dirinya dengan meninggalkan segala harta milik ayahnya. Sebagai biarawan, selain menghidupi kaul kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian, Santo Fransiskus Assisi juga memiliki semangat cinta persaudaraan baik dengan sesama manusia maupun dengan alam (Harsanto, 2017).

Sementara itu, sang sultan lahir dengan nama lengkap Malik al-Kamil Nasrudin Muhammad pada tanggal 19 Agustus 1180. Sejak kecil, ia mendapat pembelajaran yang cukup dalam mengelola kerajaannya. Ia diangkat sebagai sultan ketika berusia 20 tahun, usia yang cukup muda. Dalam masa kepemimpinannya, Mesir mengalami kekeringan panjang, kelaparan, dan wabah sampar. Kondisi tersebut membuatnya membangun banyak infrastruktur seperti bendungan dan sistem irigasi yang baik. Selain itu, ia memperbaiki ekonomi kerajaannya dengan memperbaiki hubungan dagang dengan orang-orang Kristen, yang secara tidak langsung menciptakan perdamaian melalui jalan itu (Mansur, 2019).

Pertemuan kedua tokoh tersebut terjadi ketika tentara salib yang dipimpin Pelagius tiba di Damietta dan melawan pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Sultan Malik al-Kamil. Wabah menyerang kota itu dan mengakibatkan banyak pasukan gugur dari kedua sisi. Melihat kondisi itu, hanya satu keinginan Sultan al-Kamil, peperangan ini harus diakhiri. Oleh karena itu, ia menawarkan perdamaian kepada Pelagius, yaitu Yerusalem boleh diduduki oleh pasukan salib, tetapi dengan syarat pasukan harus ditarik mundur dari Damietta.

Di saat yang bersamaan, Fransiskus Assisi tiba di Damietta dan langsung menyerukan penghentian peperangan kepada para pasukan salib yang ada di situ. Karena merasa tidak didengarkan, Fransiskus segera menuju kemah Pelagius dan memohon izin untuk menemui sultan. Tujuan utama Fransiskus kala itu sederhana, membuat sang sultan berpindah ke agama Kristen agar peperangan berakhir. Sementara itu, Pelagius yang sebenarnya menolak penawaran itu, mencoba mengirim Fransiskus ke sultan untuk melihat apakah rencana Fransiskus berhasil atau tidak. Satu hal yang menarik adalah sebelum pergi, Pelagius sempat memberi tahu Fransiskus bahwa sultan yang akan ia hadapi adalah sosok yang kejam. Namun, hal itu tidak menggetarkan hati Fransiskus sama sekali.

Setibanya di kemah pasukan Islam, Fransiskus ditangkap dan dihajar oleh para tentara Islam. Kegigihannyalah yang membuatnya mendapat perhatian dan diizinkan bertemu dengan Sultan al-Kamil. Dalam perkenalannya kepada sultan, Fransiskus menyatakan dirinya bukan sebagai utusan Sri Paus, melainkan utusan Tuhan. Seketika itu juga Sultan al-Kamil menyadari bahwa yang dihadapannya itu adalah perwakilan dari sesama orang beriman. Di sisi lain, sultan itu juga menyadari bahwa tawaran perdamaiannya pada tentara salib telah ditolak. Akan tetapi, keberanian, kesederhanaan, dan ungkapan persahabatan yang dipakai oleh Fransiskus ketika berbicara di depan al-Kamil membuat sultan tersebut terpikat dan ingin mengenal lebih jauh sosok di depannya.

Dalam perkembangannya, sultan mengizinkan Fransiskus untuk tinggal di kemah tentara Islam selama beberapa minggu, dijamu oleh para pelayan sultan, bahkan ia memiliki kesempatan untuk berkothbah di hadapan sultan secara langsung. Hal ini menumbuhkan dialog di antara dua pribadi beriman tersebut. Di sisi yang lain, Fransiskus telah membuktikan sendiri bahwa sultan yang terkenal kejam itu ternyata adalah pribadi yang sangat terbuka dan bersahabat. Pengalaman pertemuan Sultan al-Kamil dan Fransiskus Assisi selama di kemah tentara Islam, menorehkan kesan tersendiri di hati keduanya. Lalu hasilnya? Hal yang selanjutnya terjadi adalah Sultan al-Kamil tetap menjadi Islam dan perang tetap berlangsung hebat, bahkan tentara salib mengalami kekalahan. Apakah itu artinya sebuah kegagalan dialog? Tidak juga.

Ruang di hati mereka semakin terbuka lebar bagi sesamanya, bahkan yang berbeda latar belakang. Fransiskus Assisi memiliki pemahaman baru bahwa Tuhan Allah memang mahakasih. Sang santo itu akhirnya terinspirasi menyusun doa “Jadikanlah Aku Pembawa Damai.” Di wilayah lain, sang sultan semakin tergerak untuk mengakhiri peperangan. Pada Perang Salib selanjutnya, pasukan salib kembali menyerang dan dikalahkan oleh pasukan Islam. Kekalahan ini terjadi karena pasukan salib terkepung oleh banjir dari Sungai Nil yang direncanakan oleh Sultan al-Kamil. Hanya saja, diakhir perang itu al-Kamil memerintahkan pasukannya untuk membawakan makanan bagi para tentara salib.

Setelah 800 tahun berselang, perjumpaan bersejarah yang indah di tengah kekacauan zaman ini masih boleh kita saksikan langsung. Tentu saja saya mengarah pada peristiwa kunjungan Paus Fransiskus menemui Imam Besar Al-Azhar, Ahmed Al-Tayeb. Hasil dari perjumpaan kali ini cukup jelas, yaitu ditandatanganinya Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama. Bapa Paus menegaskan bahwa bahaya terbesar saat ini adalah permusuhan, penghancuran, perang, dan rasa benci di antara umat manusia (Tempo, 2019). Tentu saja, dokumen itu adalah salah satu cara mendasar sekaligus terobosan untuk menandai proyek besar dunia, yaitu berkolaborasi antarumat beragama dan beriman untuk mengupayakan dunia sebagai rumah yang ramah bagi siapapun.

Bagi saya, dua perjumpaan ini seperti oase di tengah padang gurun yang menyejukkan. Di tengah situasi dunia yang kacau dan tidak pasti, ada dua tokoh dalam dua perjumpaan yang berbeda dan di masa yang berbeda pula tetapi dengan satu tujuan yang sama, mengupayakan perdamaian serta membagikan kasih bagi sesamanya, sesama umat beriman. Peristiwa yang sudah selayaknya memberikan inspirasi bagi umat manusia untuk melangkah menembus batas-batas yang selama ini dibuat sendiri oleh manusia tanpa disadari. Batas-batas yang dalam takaran tertentu sebenarnya dirasa tidak perlu, tetapi justru menimbulkan konflik.

Menilik latar belakang sang sultan dan sang santo, peperangan fisik menjadi begitu dominan. Tanpa kita sadari, peperangan itu kini bertransfromasi bukan dalam bentuk fisik, tetapi dalam bentuk ideologi yang pada akhirnya membuahkan tindakan pembatasan diri. Situasi ini pun tidak hanya kita jumpai dalam ranah global, tetapi juga di lingkungan sekitar kita sendiri. Ini bukan hanya perkara agama saja, melainkan dari semua aspek kehidupan, termasuk budaya, kepentingan golongan, ekonomi, politik, dan masih banyak lagi. Terlebih di masa sekarang, milenialisme menjadi sesuatu yang diagung-agungkan oleh semua kalangan (Djarot dalam Baderi, 2019).

Sebenarnya, milenialisme tidak selalu hal-hal yang berbau negatif. Dengan menjadi milenial, kita memiliki pikiran yang terbuka dan mampu memahami banyak hal di saat yang bersamaan. Akan tetapi, hal yang disayangkan adalah hilangnya autentisitas diri karena terlalu mengikuti arus zaman yang selama ini lebih banyak mengikuti kebutuhan pasar tanpa mempedulikan substansi sebuah produk (Djarot dalam Baderi, 2019). Salah satu contoh mudahnya adalah banyak orang dengan mudah tersulut atau terpancing ketika mendapat sebuah berita, yang bahkan belum diverifikasi kebenarannya. Pada akhirnya, muncul banyak prasangka dan sikap-sikap menyudutkan sebuah kelompok karena sebuah ketidakbenaran yang ditelan mentah-mentah. Maka menjadi milenial, hidup orang-orang masa kini dihadapkan pada banyak pilihan karena prasangka-prasangka yang muncul di sekitar kita.

Banyaknya prasangka di masa ini tanpa kita sadari sebenarnya membuat kita terbatas oleh tembok-tembok pemisah. Mungkin lebih tepatnya bukan terbatas, tetapi kita sendiri yang membangun tembok itu dan membiarkan diri kita terkungkung di dalamnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang-ruang kelompok sebelah. Contoh sederhana lagi, ketika kita ada di sebuah kamar, kemudian kita mendengar suara yang aneh dari kamar sebelah tetapi kita tidak berani melihat secara langsung apa yang ada di kamar sebelah. Reaksi kita pertama kali pasti bertanya-tanya dan berusaha mendengarkan dengan saksama suara apa saja yang muncul. Pada akhirnya, dengan segala hal yang kita ketahui, kita menyimpulkan sendiri dan menganggap bahwa kamar sebelah itu berhantu. Padahal jika kita mau menengok dan memastikan sendiri, siapa tahu kita menemukan hal-hal yang berbeda dan lebih indah.

Oleh karena itu, menjawab tantangan kaum milenial di era sekarang dalam mewujudkan peradaban kasih, saya secara khusus mengajak semua saja yang membaca pesan ini untuk memiliki keberanian. Keberanian untuk melangkah keluar dari kamar pribadi dan menyapa siapa pun yang ditemui di kamar-kamar yang lain lalu mulai berdialog dengan mereka. Dengan menyapa dan berdialog, kita telah berupaya untuk menyingkirkan prasangka yang muncul dan mencari kebenaran demi terbukanya saluran kasih serta terwujudnya perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadi, ada keuntungan sekunder yang menyertai terciptanya dialog tersebut, yaitu bertambahnya pemahaman dan munculnya kelegaan pribadi.

Sultan Malik al-Kamil dan Santo Fransiskus Assisi menjadi contoh sekaligus inspirasi yang sangat baik dan nyata di tengah kekacauan zaman. Tindakannya yang autentik membuat perjumpaan itu sangat indah. Menyapa dan berdialog seolah menjadi mutiara yang mahal serta selalu dicari-cari. Bahkan setelah 800 tahun berlalu, peristiwa dan latar belakang situasinya masih relevan di zaman ini. Perjumpaan Paus Fransiskus dan Imam Besar Ahmed Al-Tayeb pun masih menjadi sorotan dunia sekaligus menjadi sesuatu yang bersejarah . Jika perjumpaan dan dialog sudah bukan sesuatu yang berharga, pasti perjumpaan-perjumpaan itu tidak akan lagi mendapat tempat yang penting di ranah global.

Hans Kung (dalam Mansur, 2019) pernah mengatakan, “tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama-agama. Tidak ada perdamaian agama-agama tanpa dialog antarumat beragama.” Itu artinya dialog masih sangat relevan di masa kini untuk melawan setiap prasangka yang muncul di setiap sisi kehidupan yang semakin beragam ini. Perjumpaan dan dialog yang murni, jujur, serta yang penuh dengan ketulusan akan dapat dirasakan manfaatnya bagi banyak pihak (Mansur, 2019). Dengan dialog, secara tidak langsung kita telah menempatkan martabat orang lain sama dengan kita dan melapaskan segala ego serta keangkuhan dalam diri. Pun dengan dialog, kita memiliki keterbukaan hati untuk memetik pelajaran yang  berharga dari kelompok-kelompok yang selama ini tidak kita kenal baik.

Saluran-saluran informasi serta komunikasi di era ini mengalir dengan begitu derasnya. Kita semua semakin dimudahkan untuk menerima banyak berita yang sangat beragam. Oleh karena itu, situasi yang demikian sudah selayaknya membuat kita memiliki pemikiran yang terbuka terhadap setiap persoalan yang ada (Mansur, 2019). Tetapi, sepertinya karena kemudahan itu pula, membuat semakin banyak orang merasa mengabaikan perjumpaan fisik untuk sekedar memperbincangkan situasi sekitar hingga mengklarifikasi berita-berita yang muncul di lingkungan sekitar. Banyak yang memilih duduk diam saja hanya mendengarkan apa yang ingin didengar oleh diri mereka sendiri.

Pembimbing rohani saya sendiri juga pernah mengatakan, “Hanya rasa yang bisa menyentuh rasa.” Maknanya sederhana, dialog bukan hanya ditemukan dalam ranah politik ketika para pemimpin negara duduk dalam sebuah konferensi lalu membahas isu global. Akan tetapi dialog pada hakekatnya dapat ditemukan dalam sekelompok orang biasa di suatu tempat. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dialog adalah hal yang sangat mudah dilakukan di lingkungan hidup kita sehari-hari tanpa memerlukan modal yang besar. Cukup menjadi berani, terbuka, dan autentik, maka kita akan memperoleh ganjaran yang begitu besar dan indah.

Mengedepankan dialog sebagai senjata untuk melawan kejahatan akan turut membuka gerbang kasih yang sepertinya sudah banyak terkaburkan karena keengganan kita melangkah ke kamar tetangga. Sultan Malik al-Kamil sendiri telah menunjukkan bahwa dengan berdialog dan menawarkan kasih pada orang yang dianggap musuhnya telah menyelamatkan banyak orang dari kehancuran yang tidak berarti. Banyak nyawa terselamatkan dan banyak orang dapat tumbuh di lingkungan yang kondusif. Bahkan, orang-orang Nasrani setelah itu dapat berziarah ke Tanah Suci dengan aman tanpa gangguan dari pasukan Islam.

Dialog bukan berarti kita dituntut untuk menemukan sesuatu yang menjadi alasan untuk meleburkan dua kelompok menjadi satu. Dialog adalah jalan yang ditawarkan untuk menghindari perdebatan yang tidak berujung. Hal ini dituliskan dengan jelas dalam Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama poin kelima, yang berbunyi, “Dialog antaragama berarti bersama-sama mencari keutamaan moral tertinggi dan menghindari perdebatan tiada arti.” Dalam dialog, kita saling memberi dan menerima. Memberi dan menerima dalam rangka mencari hal yang bisa dilakukan bersama atas dasar kasih yang tulus serta autentik.

Sekarang ini, segala kemudahan dan fasilitas yang diberikan oleh dunia adalah tawaran bagi kita untuk menentukan nasib bumi ini selanjutnya. Dialog ini pun adalah sebuah tawaran bagi orang-orang yang mau belajar untuk memiliki keterbukaan dalam menerima siapapun yang ada di sekitar kita. Akan tetapi, ketika kita telah menyatakan diri siap menjadi bentara peradaban kasih, maka dialog ini merupakan salah satu senjata wajib yang harus dimiliki untuk mewartakan kabar sukacita.

Tentu saja, kemudahan berdialog yang ditawarkan memiliki konsekuensi yang harus dihadapi seperti tawaran-tawaran yang lain. Dan konsekuensi yang paling sering harus kita hadapi sebagai pelopor terciptanya dialog adalah prasangka dari orang-orang di sekitar kita ketika memutuskan untuk menyeberangi batas-batas pemisah. Akan tetapi, kita boleh untuk terus meyakini bahwa jika akhirnya dialog ini tertular ke orang lain, prasangka yang tadinya menyerang kita akan terhalau dengan sendirinya melalui tindakan nyata yang dilakukan masing-masing dari kita.

Kita tidak perlu khawatir tentang apa yang terjadi ketika memulai dialog. Dalam kehidupan ini, kita akan selalu menemukan sosok seperti Sultan Malik al-Kamil maupun Santo Fransiskus Assisi. Sosok yang terbuka dan berkeinginan untuk membuka ruang-ruang bagi orang lain agar semakin banyak yang dapat merasakan perdamaian di lingkungan hidupnya. Dalam banyak kesempatan kita bisa berdialog dan mulai membuka saluran kasih bagi mereka yang selama ini jarang kita sapa dan hanya kita ketahui sedikit saja. Belajar dari dua sosok inspiraitf tersebut, kita diajak untuk tidak takut menembus batas kehidupan yang seringkali membuat sekat tak berarti yang hanya mengurung kita dalam dunia yang sempit. Mereka yang kita anggap musuh, pada hakekatnya tidaklah benar-benar menjadi musuh kita. Seringkali, prasangkalah yang membuat kita hidup dalam kebencian pada kelompok lain.

Seperti sang sultan yang dengan tulus hati menerima orang asing dari Assisi itu menjadi sesamanya, sesama umat beriman, begitu pula kita selayaknya memandang orang lain sebagai sesama kita, sesama yang hidup di rumah bernama bumi. Tidak peduli siapapun itu, mereka tetap sesama kita yang layak untuk diajak berdialog. Demikian juga seperti sang santo yang penuh keberanian tetapi tetap rendah hati menyapa penguasa tertinggi Mesir sebagai saudaranya sesama manusia, maka pantaslah kita menyisihkan ruang di hati kita bagi mereka yang seringkali tidak kita anggap sebagai manusia karena timbulnya kebencian.

Ajakan sederhana sebagai penutup essay ini adalah mari kita menghidupi semangat sang sultan dan sang santo dalam diri kita masing-masing. Semangat untuk merangkul siapapun sebagai sesamanya demi kepentingan umum yang lebih baik dan demi menyelamatkan manusia dari kehancuran karena rasa benci, permusuhan, dan egoisme yang terus bertumbuh di lingungan kita. pada akhirnya, saya hanya memiliki harapan, bahwa peperangan besar selanjutnya bukanlah perang antarumat manusia maupun makhluk ciptaan lain di muka bumi ini, melainkan sebuah peperangan dalam batin masing-masing manusia untuk terus berjuang melawan kebencian yang seringkali tumbuh karena kita beri ruang untuk tumbuh.

Selamat memulai dialog dan memetik buah manis yang boleh dirasakan banyak orang dari dialog kita dengan sesama kita umat manusia. Tuhan maha pengasih menyertai kita selalu. Amin.

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai….

Kontingen USD

dalam Lomba Essay Intercultural Student Camp APTIK 2019

Sumber:

Baderi, F.  (2019). Milenialisme menjadi segalanya. Diunduh dari www.neraca.co.id/article/121126/milenialisme-menjadi-segalanya. Pada 19 Oktober 2019, pukul 09.33 WIB.

Harsanto, A. F. (2017). Santo dan sultan: pembawa terang di tengah kegelapan. Diunduh dari www./cm/fransiskus-asisi-dan-dialog-kristen-islam/. Pada 18 Oktober 2019, pukul 21.49 WIB.

Mansur, A. S. (2019). Santo dan sultan: pembawa terang di tengah kegelapan. Diunduh dari www.cmusd.org/?p=1652. Pada 18 Oktober 2019, pukul 22.05 WIB.

Mansur, A. S. (2019). Seruan dialog di tengah era kebencian. Diunduh dari www./cm/seruan-dialog-di-tengah-era-kebencian/. Pada 19 Oktober 2019, pukul 08.16 WIB.

Pradana, S. (2019). Perang salib dan 8 periodenya dalam catatan sejarah. Diunduh dari www.idntimes.com/science/discovery/shandy-pradana/sejarah-perang-salib-exp-c1c2/full. Pada 17 Oktober 2019, pukul 21.34 WIB. Tempo. (2019).

Pesan damai paus fransiskus dan imam besar al azhar dari uea. Diunduh dari www.dunia.tempo.co/read/1172603/pesan-damai-paus-fransiskus-dan-imam-besar-al-azhar-dari-uea. Pada 18 Oktober 2019, pukul 22.11 WIB.

]]>
https://unit./cm/sang-sultan-serta-sang-santo/feed/ 0
Kebenaran Yang Memerdekakan https://unit./cm/kebenaran-yang-memerdekakan/ https://unit./cm/kebenaran-yang-memerdekakan/#respond Thu, 21 Feb 2019 01:53:13 +0000 https://unit./cm/?p=1623 lanjut

]]>
Dalam rangka menyambut perkuliahan pada semester genap tahun akademik 2018/ 2019, Universitas Sanata Dharma bersama Campus Ministry mengadakan Perayaan Ekaristi Awal Semester Genap pada hari Senin, 11 Februari 2019. “Kebenaran yang Memerdekakan” adalah tema perayaan ekaristi awal semester genap pada tahun ini. Ekaristi diadakan di Kapel St. Robertus Bellarminus Kampus USD Mrican dan Ground Gedung Utama USD Paingan pukul 07.15 WIB. Ekaristi tersebut dihadiri oleh segenap civitas akademika USD.

Ekaristi di Kampus Paingan dipimpin oleh Romo Galih Arga Wiwin Aryanto, Pr. atau yang akrab disapa Romo Galih. Beliau merupakan salah satu dosen dari Fakultas Teologi USD. Dalam kotbahnya, Romo Galih memberi pengantar dengan cerita ramalan Nostradamus mengenai Para Paus yang akan memimpin Gereja Katolik sebelum akhir zaman. Ramalan Nostradamus sendiri diyakini sebagai kebenaran yang dipercaya oleh banyak orang sejak abad ke-16.

Terlepas dari apakah ramalan dari Nostradamus tersebut memang suatu kebenaran atau tidak, ilmu pengetahuan modern mencatat terdapat beberapa hal yang dipakai untuk mengukur kebenaran di antaranya berdasarkan otoritas, koherensi, pragmatis, intuisi, dan emosi. Masing-masing ukuran kebenaran tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dan harus secara bijak dipahami sesuai konteksnya. Secara khusus, Romo Galih menekankan pentingnya untuk berhati-hati dengan ukuran kebenaran yang dilandasi oleh emosi. Ukuran kebenaran berdasarkan emosi ini sering kali membuat orang dengan mudah mengambil suatu kesimpulan atas peristiwa yang terjadi, namun orang tersebut tidak siap menghadapi konsekuensi yang mengikutinya.

Oleh karena itu, Romo Galih meminta seluruh civitas akademika USD untuk mulai bergerak secara aktif memilah mana kebenaran yang sejati dan yang semu. Melalui bacaan pertama dan injil, Romo Galih ingin menyampaikan bahwa hendaknya kita jeli dalam memilih kebenaran yang memberikan kemerdekaan bagi kita dalam hidup sehari-hari, the truth will set you free (John. 8:32).

Dalam ekaristi kali ini, segenap Panitia Ekaristi Awal Semseter yang mewakili seluruh civitas akademika USD memberikan persembahan secara simbolis, berupa buku yang bermakna kebenaran karena merupakan salah satu sumber ilmu dalam dunia perkuliahan. Harapannya, perayaan ekaristi ini memberikan semangat baru dalam semester ini, baik kepada dosen, karyawan, dan mahasiswa untuk selalu mengupayakan nilai-nilai kebenaran dalam dinamika hidup sehari-hari.

(Dian & Rosa)

 

]]>
https://unit./cm/kebenaran-yang-memerdekakan/feed/ 0
Jalan Hidup Karna: Pencarian Jati Diri Melalui Keterbukaan Hati https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/ https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/#respond Mon, 26 Nov 2018 06:11:33 +0000 https://unit./cm/?p=1545 lanjut

]]>
Dari seluruh cerita rakyat di tanah Jawa yang pernah saya dengar, wayang purwa menjadi cerita yang paling menarik bagi saya. Saya mengakui bahwa pemahaman mengenai lakon-lakon yang ada di dalamnya masih sangat sedikit. Akan tetapi, sudah menjadi sesuatu yang umum ketika muncul kata wayang purwa, maka asosiasi orang akan mudah terarah ke kisah Bharatayuda.

Kisah Bharatayuda yang agung ini menggambarkan dengan sangat baik problema kehidupan manusia yang dilambangkan dalam hidup pewayangan, sehingga setiap lakonnya sarat akan makna. Secara umum, sifat-sifat manusia yang kompleks muncul dalam setiap tokoh yang berperan (Kresna, 2012). Dalam kisah Bharatayuda, kita pasti tahu mengenai sosok Pandawa yang menampilkan kebaikan dan Kurawa yang identik dengan peran jahatnya pada setiap cerita.

Sapa nandur bakal ngundhuh, adalah ungkapan yang berarti siapa yang menanam akan menuai (Kresna, 2012). Ungkapan sederhana ini juga seolah-olah sudah menjadi sebuah hukum alam bahwa orang-orang yang bertindak dengan cara tertentu akan mendapat ganjarannya sesuai dengan apa yang dilakukannya. Tentu saja, apa yang dilakukan Pandawa dan Kurawa memiliki konsekuensi dalam hidup mereka masing-masing. Kurawa yang dianggap selalu berbuat jahat pada Pandawa akhirnya dikalahkan dalam perang besar, sehingga Hastinapura menjadi negara yang makmur dalam kepemimpinan para Pandawa.

Sekarang bagaimana jika ada orang lain yang menanamkan bagi kita tanaman yang tidak kita kehendaki, namun kita yang menuai atau menikmati hasilnya? Jika buah dari tanaman itu adalah buah yang baik, maka kita tentu mudah untuk bersyukur dan menikmatinya. Akan tetapi jika buah yang harus kita makan adalah buah yang tidak baik, apakah rasa syukur itu ada semudah ketika menikmati buah yang baik? Sepertinya Basukarna atau Adipati Karna adalah sosok yang tepat untuk kita jadikan contoh dalam menghadapi situasi semacam itu.

Karna, putra sulung dari Ibu Kunti yang berasal dari Dewa Surya ini sebenarnya merupakan bagian dari Pandawa jika saja dirinya tidak dibuang dan dihanyutkan ke sungai agar diasuh oleh orang lain. Karna tumbuh dan berkembang dalam asuhan seorang kusir istana bernama Adirata. Selain karena kemampuan alaminya sebagai seorang ksatria hebat, Karna adalah sosok yang mau belajar dan pantang menyerah. Sekalipun ditolak oleh Resi Durna karena Karna dianggap bukan bagian dari para pangeran Hastinapura, Karna tidak langsung menyerah melainkan mencuri-curi kesempatan untuk dapat mendengarkan dan melihat Resi Durna mengajari Pandawa dan Kurawa.

Kehidupan Karna berubah karena ia dengan berani menantang Arjuna bertanding. Arjuna sempat menolak karena tidak pantas seorang pangeran menerima tantangan dari anak seorang kusir kerajaan. Oleh karena itu, Duryudana dengan senang hati mengangkat Karna menjadi Adipati Awangga agar layak menantang Arjuna dan agar Kurawa memiliki ujung tombak dalam melawan Pandawa. Resi Durna yang melihat pertarungan sengit antara Karna dan Arjuna pun akhirnya hanya dapat mengatakan bahwa hasilnya seri karena kekuatan mereka yang sama-sama hebat.

Singkat cerita, dalam perang Bharatayuda, Karna kembali harus melawan Arjuna karena kedua saudara itu berada di pihak yang berbeda. Perang tanding yang menegangkan, mengharukan, sekaligus berlangsung sangat dahsyat itu dikenal dengan nama Karna Tanding. Kedua panglima perang yang berwajah mirip dan memiliki kekuatan yang seimbang itu berusaha mempertahankan nyawanya masing-masing di tengah kejamnya peperangan (Kresna, 2012). Pada akhirnya, Karna gugur sebagai pahlawan ketika anak panah Arjuna tepat mengenai leher kakaknya itu.

Orang yang belum memahami peran Karna pasti akan bingung mengapa Karna seringkali dianggap pahlawan oleh para dalang. Padahal dengan jelas Karna merupakan abdi yang sangat setia pada Kurawa, secara khusus Duryudana. Karna bahkan gigih memperjuangkan prinsipnya sebagai ksatria untuk membalas budi atas segala sesuatu yang telah diperolehnya. Ternyata, alih-alih ingin mengalahkan adik-adiknya di pihak seberang, Karna justru menginginkan perang Bharatayuda ini terjadi agar angkara murka yang ditimbulkan oleh Kurawa dapat lenyap dari muka bumi. Karna bahkan rela mati di tangan Arjuna agar tidak ada lagi yang dapat menjadi tameng bagi Kurawa. Hal ini menunjukkan bahwa Karna sebenarnya tidak ingin mencelakai adik-adiknya, tetapi tanpa meninggalkan janjinya untuk balas budi kepada Kurawa.

Jika saya boleh mengambil kesimpulan di tengah-tengah tulisan ini, Karna sebenarnya adalah korban dari lingkungan yang membuatnya terjebak pada pihak yang berperan jahat. Korban atas tanaman yang tidak Karna harapkan akan tumbuh, tetapi ia harus memakannya. Jelas bahwa Karna tidak memiliki keinginan untuk dibuang oleh Ibu Kunti. Karna sama sekali juga tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus melalui perjalanan hidup yang berat karena sering dilecehkan oleh orang lain ketika sedang berjuang mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ksatria kerjaan yang tangguh. Kita bisa membayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya perasaan Karna ketika tahu bahwa dirinya adalah salah satu pangeran yang layak hidup dalam kemuliaan tetapi harus diperlakukan dengan tidak hormat.

Akan tetapi, hal yang menarik justru terjadi di akhir cerita, ketika penikmat pertunjukkan wayang tahu bahwa Karna akhirnya secara tidak langsung memihak adik-adiknya demi musnahnya angkara murka. Hal ini menjadikan Karna adalah sosok korban mulia yang mengorbankan dirinya demi kebenaran. Artinya ia tidak mudah menyalahkan keadaan ataupun meratapi nasibnya yang kurang beruntung. Karna sadar bahwa ada tujuan baik yang masih dapat ia raih dengan perannya sebagai seorang Pangeran yang terbuang. Jika saja ia tidak dibuang dan menjadi bagian dari Pandawa, kejahatan tidak akan musnah dari bumi ini.

Selain itu, Karna harus melawan adik-adiknya sendiri hanya karena berada di pihak yang berbeda. Jika dilihat dari tugas dan tanggung jawabnya, Karna yang memilih setia pada Kurawa adalah sebuah kewajaran karena ingin balas budi. Akan tetapi, hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menyakitkan bukan hanya bagi kedua belah pihak, tetapi juga bagi orang-orang terdekat mereka, salah satunya adalah Ibu Kunti. Hati seorang ibu tentu akan menderita menyaksikan anak-anaknya saling bertarung demi membela yang mereka yakini benar. Pasti Kunti memiliki dorongan yang begitu kuat untuk mencegah pertempuran keduanya saling melukai. Kunti tahu, bahwa ketika kedua anaknya saling menyerang, ia adalah orang yang merasakan rasa sakitnya luka itu dua kali lipat.

Peristiwa dan kisah hidup Karna ini menjadi pralambang bahwa setiap orang selalu memiliki pilihan hidup, sekalipun keadaan terkadang tidak berpihak padanya. Menjadi korban dari sebuah keadaan bukan merupakan alasan untuk menyerah dalam sebuah pertempuran hidup dan melupakan tujuan yang ingin diraih. Justru peristiwa-peristiwa yang tidak kita harapkan tersebut menjadi kesempatan bagi kita untuk mengasah diri dan membuktikan pada orang banyak bahwa kita tetap mampu berdiri di atas kaki sendiri, meskipun keadaan terus menghimpit.

Yogyakarta selayaknya seperti Negara Hastinapura dengan negara-negara kecil lainnya yang menyertai. Setiap sudut kotanya dapat menjadi medan perang Kurusetra dan juga dapat menjadi khayangan sewaktu-waktu. Semua orang yang tinggal berdiam di kota ini adalah para tokoh pewayangan yang memiliki perannya masing-masing. Bahkan, seluruh lakon pewayangan dapat dihadirkan dalam setiap dinamika kehidupan yang ada di kota ini. Ada yang berperan sebagai pemimpin yang agung, ada yang berperan sebagai ksatria pembela kebenaran, ada yang menjadi seperti brahma untuk mengajari dharma pada setiap manusia, dan masih banyak peran lain yang dimiliki oleh masing-masing orang, sehingga tercipta begitu banyak lakon yang menarik untuk disaksikan.

Itu artinya sosok-sosok seperti Karna dan Arjuna yang seharusnya bersaudara ada dalam kehidupan kota ini. Sekalipun Karna dan Arjuna memiliki perbedaan dalam setiap perjalanan hidupnya, bagaiamanpun juga mereka tetaplah saudara. Kita harusnya juga ingat bahwa selama masih berada di bawah bendera yang sama, kita adalah saudara. Kita boleh berasal dari timur maupun barat. Kita boleh menganut sebuah paham dari utara maupun selatan. Bahkan, sekalipun dilahirkan di utara, kita juga boleh mengakui bahwa kita berasal dari tengah. Akan tetapi, bagaimanapun latar belakangnya, kita memiliki satu identitas yang sama yaitu warga Negara Indonesia.

Kondisi Indonesia yang majemuk ini sangat kental terasa di Yogyakarta. Kita sangat mudah menjumpai orang-orang dari luar Yogyakarta dan mengikuti dinamika kehidupan warga setempat. Banyak lakon dan interaksi yang muncul sehingga Yogyakarta semakin kaya dengan perbedaan-perbedaan yang dibawa oleh setiap orang. Seringkali kita juga menemui adanya percampuran kebudayaan yang disuguhkan dalam setiap pagelaran kesenian. Kondisi semacam ini membuat pernikahan beda suku dan ras juga terjadi. Akhirnya, muncullah kebudayaan-kebudayaan baru yang membuat variasi kebudayaan Indonesia semakin banyak.

Sayangnya, sosok Karna dan Arjuna yang saling berkelahi dan melukai demi membela yang dianggap benar juga muncul dan memainkan lakon yang menyedihkan. Sekalipun saudara, mereka akhirnya harus terjun dalam peperangan hebat yang menyebabkan gugurnya salah satu pihak. Kondisi ini juga sering terjadi di kota indah Yogyakarta ini. Gesekan-gesekan yang sulit dihindarkan akhirnya mengancam kemanan dan perdamaian yang ada. Tidak jarang ada peristiwa gesekan yang menimbulkan korban jiwa, sehingga memunculkan stigma-stigma tersendiri bagi orang atau pihak-pihak yang terlibat dalam gesekan tersebut.

Peristiwa terbaru yang menggegerkan warga Yogyakarta adalah adanya perselisihan warga dari suku Ambon dengan suku Papua karena penusukan yang terjadi pada tanggal 12 September 2018 yang lalu. Hal ini menimbulkan keresahan mengingat masing-masing pihak yang berselisih tersebar di berbagai wilayah di Yogya, sehingga warga sekitar juga harus ikut berjaga-jaga jika timbul gesekan baru. Tak lama sebelum ini, terjadi penyerangan kepada umat katolik di Gereja St. Lidwina Bedog pada tanggal 11 Februari 2018. Selain itu, tahun 2016 muncul kasus penolakan terhadap pemasangan baliho dengan gambar mahsiswa berhijab di universitas-universitas non-muslim. Belum lagi, banyak rentetan peristiwa lain yang juga dianggap melukai kehidupan sosial yang majemuk di tanah Yogyakarta ini.

Dengan beragamnya kasus pencideraan terhadap kehidupan lintas suku, agama, maupun ras, saya melihat semakin banyak orang yang terdorong dan tersadarkan untuk menjaga persatuan tanpa memandang latar belakang dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Banyak dialog lintas iman diselenggarakan agar terjalin komunikasi yang baik. Banyak seminar juga dirancang untuk membuka wawasan masyarakat agar terbuka dengan warga yang lain. Ada buku-buku khusus yang diterbitkan untuk menyoroti kasus-kasus intoleransi dan perselisihan antarwarga dalam hidup sehari-hari. Jika diambil benang merahnya, segala upaya yang dilakukan tujuannya adalah untuk menjalin relasi yang baik dan mengedukasi masyarakat luas bahwa kehidupan keberagaman di kota ini sudah semakin terancam, sehingga membutuhkan semakin banyak orang untuk terlibat dalam menjaga keutuhan persatuan Indonesia.

Campus Ministry Universitas Sanata Dharma Yogyakarta juga mengungkapkan hal yang senada. Salah satu cara yang tepat dalam meredakan gelombang kekerasan dalam hidup bermasyarakat di Indonesia adalah dengan edukasi. Maka dari itu, lembaga pendidikan dari yang paling dasar sampai perguruan tinggi harus memiliki komitmen dalam menanamkan semangat Pancasila dalam diri seluruh peserta didik. Usaha Campus Ministry ini terwujud dalam gerak langkahnya mengadakan beberapa kali dialog dengan mahsiswa serta masyarakat lintas agama dan suku, sehingga tercipta relasi yang baik antara pihak universitas dengan masyarakat luas. Usaha ini tentunya diselaraskan dengan motto universitas, yaitu cerdas dan humanis. Harapan dari motto itu sederhana, yaitu seluruh civitas akademika di Universitas Sanata Dharma dapat berkontribusi memajukan masyarakat dengan ilmu yang diperoleh demi kesetaraan martabat manusia yang seringkali dilupakan karena masalah-masalah yang muncul sebagai akibat dari perkembangan zaman.

Usaha tersebut memang tidak berdampak langsung kepada seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan yang berdinamika setiap hari dalam kehidupan kampus. Akan tetapi mahasiswa-mahasiswa lintas agama dan suku yang tersebar di berbagai komunitas kerohanian di bawah Campus Ministry dan unit kegiatan kesukuan lainnya, mampu memberikan warna tersendiri dalam dinamika kehidupan kampus. Pada akhirnya, edukasi mengenai rasa toleransi dan kehidupan keberagaman di kampus dapat dirasakan oleh mahasiswa yang lainnya. Banyak interaksi terbuka yang menjadi saksi indahnya toleransi di dalam kampus sendiri. Teman saya, seorang muslim, pernah mengungkapkan bahwa ia salut dengan teman-teman muslim, kristen, hindu, dan budha lainnya yang tetap dapat eksis dan berkembang sekalipun berada di universitas katolik. Ia juga merasa senang ketika dalam beberapa kesempatan melihat seorang biarawati dengan nyaman berjalan berdampingan dengan mahasiswa yang berhijab.

Salah satu pengalaman yang sederhana namun berkesan bagi saya adalah ketika saya memasuki semester 2. Waktu itu, jadwal kuliah masih padat, sehingga hampir setiap siang hari saya masih berada di kampus untuk mengikuti kelas, mengerjakan tugas-tugas dari dosen, maupun sekedar duduk bercengkrama dengan teman mahasiswa lainnya. Suatu siang, salah satu teman saya yang muslim mendatangi saya dan meminta saya untuk menemaninya ke mushola kampus. Saya dengan senang hati menunjukkan tempat pada teman saya ini. Selain itu, saya juga berkesempatan membantunya menyiapkan peralatan sholat seperti mukenah dan sajadah, serta menunjukkan tempat wudhu baginya. Ini terjadi bukan karena saya muslim, tetapi lebih karena saya sering berada di area sekitar mushola untuk berkumpul dengan teman saya yang lain.

Bagi saya, pengalaman itu mengesankan karena saya mendapat kesempatan untuk membantu teman saya yang berbeda keyakinan. Selain itu, saya boleh berbangga, karena dengan peristiwa itu saya berarti mendapat kepercayaan dari teman saya yang berbeda keyakinan untuk membantu dalam menjalankan ibadahnya. Setelah teman saya ini selesai sholat, saya sejenak mendapat kesempatan juga untuk sharing bersamanya sejenak tentang kehidupan beragama kami masing-masing. Sampai saat ini, relasi kami masih terjalin dengan baik, bahkan beberapa kali kami memiliki kesempatan untuk saling membantu dengan ikhlas tanpa perlu melihat latar belakang kami masing-masing.

Dalam kesempatan yang berbeda, saya mendapat kesempatan lagi untuk sharing dengan salah satu teman dari daerah yang berbeda. Dari teman saya ini, saya memperoleh suatu pandangan baru tentang kehidupan keberagaman yang terjalin di kampus. Dengan sangat baik, teman saya ini bercerita bahwa ketakutan terbesarnya dalam menghadapi kehidupan kampus bukan karena perbedaan agama, ras, ataupun suku, melainkan takut karena semakin banyak pribadi-pribadi baru dengan berbagai macam sifat yang akan ia temui. Itu artinya, ia harus menjadi pribadi yang luwes, memiliki toleransi yang besar ketika menghadapi berbagai macam pribadi yang berbeda tersebut.

Adanya individual differences adalah satu prinsip yang teman saya ini pegang sejak awal memasuki dunia perkuliahan, sehingga ia merasa lebih terbuka terhadap orang lain dan lebih mudah dalam menerima setiap perbedaan yang ada dalam diri teman-teman yang ia temui sehari-hari. Bagi teman saya, membicarakan keberagaman dalam hal agama, suku, dan ras adalah hal yang menarik. Tetapi, perbedaan kepribadian adalah suatu hal yang lebih inti karena pada akhirnya apapun latar belakang yang orang lain miliki berkaitan dengan agama, suku, dan ras tersebut tidak akan menjadi masalah lagi.

Saya rasa, keterbukaan diri orang dalam menerima kehadiran orang lain tanpa memandang latar belakang agama, suku, dan rasnya adalah keterbukaan sejati yang diperlukan setiap orang saat ini. Kita tidak bisa menampik bahwa agama dan kebudayaan memang berperan dalam membentuk karakter seseorang dalam bersikap dan berelasi dengan orang lain. Tetapi bagaimanapun juga, ketiga hal tersebut adalah sebagian kecil dari berbagai macam faktor pembentuk karakter yang lain. Inti dari diri manusia adalah karakter atau kepribadian yang dimilikinya yang tentu saja menggerakan setiap pribadi tersebut.

Pemahaman mudahnya adalah ketika kita membicarakan agama, suku, dan ras, kita hanya akan berkutat dalam topik yang terkotak-kotakkan itu. Akan tetapi, pembahasan mengenai pribadi atau karakter seseorang dapat menjadi pemahaman yang luas, bahkan sampai menyangkut tentang latar belakang agama, suku, dan ras yang membentuk pribadi orang tersebut. Saya tidak menolak bahwa sharing tentang agama, suku, dan ras itu juga merupakan perbincangan yang hangat dan menyenangkan. Tetapi kita juga perlu ingat bahwa ada hal yang lebih inti yang perlu disapa dalam relasi dengan orang lain, yaitu karakter setiap orang yang berbeda-beda yang menampilkan wajah kasih Allah.

Seseorang yang sampai pada tahap menyapa karakter orang lain di sekitarnya merupakan sapaan personal yang intim karena sudah mampu masuk dan mengenal orang tersebut dengan lebih dekat. Orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang tentunya mau terbuka pada keunikan setiap pribadi. Inilah bentuk srawung yang lebih hangat karena seseorang tidak akan terjebak pada atribut-atribut yang menghiasi diri manusia seperti bahasa, dialek, suku, ras, agama, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Orang mau menyapa dan mengenal orang lain semata-mata karena kepribadiannya yang menarik dan membuat mereka saling mengisi maupun mengembangkan satu dengan yang lain.

Srawung memang mengandung makna untuk bersosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Arti ini menunjukkan adanya keaktifan dalam diri masing-masing pihak untuk mau membuka diri. Poin penting lain dari srawung adalah menanggalkan sejenak segala atribut yang ada, agar perjumpaan pribadi dan pribadi ini tidak terpengaruh hal-hal yang membuat orang berada pada pihak yang berlawanan maupun pada tingkat yang berbeda. Maka, srawung tidak berhenti hanya pada sekedar berjumpa, duduk bersama, dan bercengkrama, tetapi juga proses mengembalikan martabat manusia setara dengan manusia yang lain. Jika proses itu tercapai, maka frasa duduk bersama ini akan menempatkan manusia pada level tempat duduk yang sama karena sudah tidak memerdulikan lagi latar belakang orang lain ketika melakukan perjumpaan.

Ketika kita kembali mengingat sosok Karna dan Arjuna dalam kisah Bharatayuda dan menggunakan cara pandang kesamaan martabat manusia seperti di atas, maka Arjuna tidak akan dengan angkuh menolak tantangan Karna ketika mereka masih berguru pada Resi Durna. Cara pandang yang demikian juga akan membuat kita tidak mudah menuduh Karna membela kejahatan. Sekalipun Kurawa dan Karna memperoleh peran yang jahat dalam dunia pewayangan, namun masih ada hal-hal positif yang ternyata dapat kita ambil dari setiap lakon kehidupan mereka (Amrih, 2007). Pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika memandang Karna dan Arjuna dalam kesamaan martabat, kita selalu dapat memiliki harapan positif dalam kedua pribadi itu.

Selain itu, ketika srawung bemakna mengembalikan kesetaraan martabat manusia dalam suatu perjumpaan, maka itu artinya ada hal yang harus dikorbankan agar perjumpaan ini benar-benar menghidupkan. Pengorbanan yang dimaksud adalah adanya kesediaan untuk melepaskan jubah kebesaran masing-masing pribadi dan mau mengakui keberadaan orang lain. Hal ini dengan sangat baik diperankan oleh Karna walaupun sangat implisit dan membutuhkan pemahaman yang mendalam.

Karna yang akhirnya tahu bahwa dia sebenarnya adalah bagian dari Pandawa, tetap bersikeras ingin berada pada pihak Kurawa, namun hati kecilnya memihak kepada adik-adiknya. Keinginan Karna untuk memusnahkan angkara murkalah yang membuat Karna akhirnya membiarkan perang besar tersebut terjadi. Selain itu, Karna tidak terlalu berambisi untuk memenangkan pertempuran dengan Arjuna, adiknya, karena bagaimanapun seorang ksatria harus tetap membela kebenaran. Oleh karena itu, Karna merelakan dirinya dibunuh oleh Arjuna, agar sukmanya terbebas dari angkara murka dan dapat bersatu dengan Pandawa secara kebatinan.

Selain itu, kita juga dapat mengambil sikap Karna yang menjadi korban namun tidak dengan mudah menyalahkan keadaan. Ia gigih memperjuangkan hidupnya sampai akhirnya memperoleh kemuliaan karena mau terbuka dan mengambil kesempatan untuk menjadi lebih baik. Di akhir perjuangannya, Karna mampu menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya dan mengambil keputusan yang sangat tepat demi tegaknya kebenaran. Boleh dibilang, bahwa kita juga adalah korban dari keadaan yang membuat kita terlahir dan memilih untuk membuat sekat dengan orang lain yang berbeda dari kelompok kita. Sayangnya, terkadang kita lebih sering menyalahkan keadaan daripada memperbaiki diri. Kita lupa bahwa kita juga perlu berkembang dan menemukan jati diri kita di dalam kelompok-kelompok yang lain.

Belajar dari keutamaan Karna untuk terbuka dan srawung dengan diri sendiri maupun dengan orang lain nampaknya akan menghasilkan buah yang manis di tengah-tengah tanaman lain dalam kebun kita yang mungkin saja ditanam oleh orang lain. Kita dapat memulai membuka peluang-peluang dengan membuka interaksi dari lingkungan kita yang terdekat. Memperoleh pengalaman yang menyakitkan akan menjadi sebuah bekal berharga untuk terus mencari dan mencari keutamaan diri sendiri. Harapannya, dengan terus membuka peluang srawung dan saling menyapa antarpribadi, kita akhirnya menemukan diri kita, sehingga mampu mengambil sikap atas kondisi negara kita yang masih sangat perlu untuk dibangun.

Ilustrasi sederhana dari Karna ini, tanpa saya sadari sudah saya lihat dalam dinamika kehidupan di kampus. Sapaan antarpribadi dan kegigihan untuk terus mencari jati diri yang sesungguhnya dengan membuka peluang agar dapat berkembang di tengah beragamnya latar belakang orang-orang di kampus, ternyata sesuatu yang indah dalam kehidupan yang nyata. Selama tiga tahun terakhir, saya melihat bahwa ketika seleksi masuk kepanitiaan maupun organisasi, tidak pernah saya temui ada yang menanyakan tentang identitas agama, suku, maupun rasnya. Semua penyelenggara kegiatan menerima dengan baik setiap orang yang ingin berpartisipasi dan berkembang.

Dalam satu kesempatan, saya akhirnya boleh merasakan kepanitiaan yang majemuk. Ketika itu, saya mengikuti kepanitiaan Ekaristi Kaum Muda dan Dialog Lintas Iman. Dalam kepanitiaan itu, walaupun ada corak kegiatan katolik dalam acara Ekaristi Kaum Muda, tetapi teman-teman saya dari lintas agama dan suku tidak sungkan untuk berpartisipasi dan mendaftar. Pada kesempatan yang lain, komunitas kerohanian katolik yang saya ikuti akhirnya memperoleh anggota yang muslim dan budha di dalamnya. Uniknya, mereka akhirnya berani memutuskan untuk menjadi koordinator divisi dalam komunitas tersebut. Teman-teman menyambut dengan baik keputusan mereka, sehingga semua unsur dalam komunitas tersebut dapat berkembang bersama hingga saat ini. Secara umum, saya melihat bahwa dinamika ini sampai pada sapaan personal yang tidak mementingkan lagi agama, suku, maupun ras yang melekat dalam diri setiap orang.

Kita adalah Kurawa dan Pandawa dalam satu kesempatan yang sama. Lebih tepatnya, kita adalah Karna dalam hidup kita. Sosok seperti Karna ditampilkan agar kita memiliki gambaran akan sosok yang netral karena sangat sulit menggolongkan Karna dalam kelompok Kurawa maupun Pandawa. Sekalinya kita mengelompokkan Karna dalam golongan Pandawa, kita harus ingat bahwa semasa hidupnya Karna sangat setia pada Kurawa karena sudah memperoleh kemuliaan dalam hidup. Akan tetapi, jika kita mengelompokkan Karna sebagai Kurawa, kita juga harus tahu bahwa Karna memiliki keutaman untuk membela kebenaran seperti Pandawa dengan caranya sendiri.

Oleh karena itu, Karna menjadi sosok yang tepat yang menggambarkan setiap pribadi manusia karena sisi Pandawa dan sisi Kurawa berdinamika indah di dalam dirinya. Pada akhirnya, segala lakon dalam kehidupan kita kembali pada keputusan kita untuk menghadapi dunia ini. Kita boleh menjadi Karna yang Pandawa dan boleh menjadi Karna yang Kurawa di waktu yang bersamaan. Setiap sisi memiliki perannya masing-masing. Setiap sisi memiliki sisi baik dan sisi jahatnya masing-masing. Melalui kebijaksanaan yang kita pelajari setiap hari dalam dinamika kehidupan, pada akhirnya kita akan menemukan jawaban atas Karna yang mana yang akan saya lakoni. Kembali, dengan srawung yang penuh kasih dan tanpa perlu embel-embel atribut agama, ras, suku, dan atribut-atribut yang lain, kita dapat menemukan diri kita sendiri dalam perjalanan hidup.

Bukan menjadi masalah lagi Karna yang mana, selama dalam proses srawung itu kita melandaskan diri pada kasih, kita tidak akan menyalahkan keadaan yang saat ini mungkin menghimpit kita. Hal tersebut akan membuat kita memiliki kekuatan untuk terus berkembang dan menemukan diri. Masing-masing pribadi seperti Pandawa, Kurawa, dan bahkan Karna memiliki caranya sendiri untuk membagikan kasih dalam srawung yang mereka bangun dengan dunianya. Oleh karena itu, setiap pribadi juga akan memiliki caranya tersendiri untuk membagikan kasih dalam cara srawung yang tersendiri pula.

 

 

Rosalia Tatiana Govitkeva

(Komunitas Paingan/Ignatian Study Club)

Pemenang Juara I Lomba Esai ISC APTIK 2018

 

Sumber:

Kresna, Ardian. (2012). Mengenal wayang. Yogyakarta: Laksana.

Amrih, Pitoyo. (2007). Kebaikan kurawa. Yogyakarta: Pinus.

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/jalan-hidup-karna-pencarian-jati-diri-melalui-keterbukaan-hati/feed/ 0
Ilmu Pengetahuan Tak Pernah Berada di Ruang Kosong https://unit./cm/ilmu-pengetahuan-tak-pernah-berada-di-ruang-kosong/ https://unit./cm/ilmu-pengetahuan-tak-pernah-berada-di-ruang-kosong/#respond Thu, 20 Sep 2018 07:41:01 +0000 https://unit./cm/?p=1500 lanjut

]]>
Robertus Bellarminus (1542-1621) hidup di tengah zaman yang penuh huru-hara. Sebagai seorang teolog dan Jesuit, dia dikenal cerdas, saleh dan punya koneksi keluarga (pamannya adalah Paus Marcellus II) di pusat dunia saat itu yaitu Roma. Gereja sedang mengalami perpecahan karena gerakan Reformasi. Ilmu pengetahuan menantang ajaran Gereja yang maha tahu segala. Agama dan politik tumpah tindih tidak keruan. Salah satu peristiwa penting yang menandai hidup Bellarminus adalah perjumpaannya dengan Galileo Galilei tahun 1616. Sebagai teolog kepausan dan anggota lembaga Inkuisisi Roma dia diminta pendapatnya tentang Galileo yang mengajukan teori baru tentang tempat planet Bumi dan Matahari di alam semesta. Teori Bumi mengelilingi Matahari saat itu dianggap melawan ajaran Gereja yang menyatakan sebaliknya sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Suci. Bellarminus berprinsip pada ajaran Gereja sambil menyatakan bahwa gagasan Galileo masih perlu bukti agar bisa dianggap serius menyaingi ajaran Gereja yang sudah berlaku ribuan tahun. Ia menganjurkan agar Galileo tidak mempublikasikan gagasannya pada saat itu. Ini adalah zaman ketika perdebatan teologis bisa memicu perang antarnegara. Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa (1618-1648) antara kerajaan-kerajaan Katolik dan Protestan memakan korban delapan juta jiwa. Kita semua tahu bahwa gagasan Galileo itu masih butuh waktu 100 tahun hingga penemuan fisika Newtonian dan teori gelombang cahaya, sebelum bisa diterima oleh ilmu pengetahuan. Hingga kinipun, ilmu pengetahuan tak pernah berada di ruang kosong. Ilmu pengetahuan selalu berada dalam konteks bermasyarakat yang ditandai oleh keyakinan, komitmen, pertarungan kekuasaan dan pergulatan gagasan yang tidak pernah selesai. Bellarminus adalah kita semua yang berusaha membangun ilmu pengetahuan di tengah-tengah situasi masyarakat yang konkret, menjadi cerdas sekaligus humanis.

– Homili Romo Benny Hari Juliawan, SJ pada perayaan Ekaristi Pesta St R Bellarminus, 17 September 2018, di Kapel St R Bellarminus Universitas Sanata Dharma

Video: Judha Jiwangga, Musik: Jesuit Music Ministry – Take and Recieve

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]

]]>
https://unit./cm/ilmu-pengetahuan-tak-pernah-berada-di-ruang-kosong/feed/ 0
Lomba Video Bellarminus Day 2018 https://unit./cm/lomba-video-bellarminus-day-2018/ https://unit./cm/lomba-video-bellarminus-day-2018/#respond Thu, 20 Sep 2018 01:47:24 +0000 https://unit./cm/?p=1494 lanjut

]]>
Santo Robertus Bellarminus adalah nama Kapel dan Santo pelindung Universitas Sanata Dharma. Bagi civitas akademika USD, Santo Robertus Bellarminus berarti teladan dalam hidup berkomunitas dan perkuliahan. Untuk menambah literasi dan membagikan cerita tentang Santo Robertus Bellarminus yang lebih menarik, maka dalam rangka Bellarminus Day 2018 ini, Campus Ministry mengadakan lomba video “Menjadi Cerdas dan Humanis seperti Santo Robertus Bellarminus”.

Berikut persyaratannya:

• Karya orisinil (individu maupun kelompok)
• Video berdurasi 30-60 detik
• Resolusi 720p
• Alat rekam bebas
• Bentuk video bebas
• Mencantumkan sumber jika menggunakan materi orang lain (lagu, gambar, dll)
• Video diupload di akun Instagram masing-masing peserta
• Follow Instagram @campusministryusd
• Tag video ke Instagram @campusministryusd
• Gunakan hashtag #BellarminusDay2018 #HappyBellarminusDay
• Video menjadi hak milik Campus Ministry

• Peserta adalah mahasiswa, dosen, dan karyawan aktif Universitas Sanata Dharma.
• Batas waktu pengumpulan karya tanggal 30 September 2018 pukul 23.59 WIB.

• Pemenang akan diumumkan melalui blog dan medsos Campus Ministry USD tanggal 5 Oktober 2018 dan akan dihubungi untuk penerimaan hadiah.
• Dipilih 2 orang Pemenang berdasar 2 kategori, yaitu video terbaik berdasarkan jumlah LIKE dan video pilihan juri.

• Hadiah berupa uang tunai Rp 750.000 (dipotong pajak) dan sertifikat untuk masing-masing pemenang.
• Juri berasal dari internal Campus Ministry. Penilaian berdasarkan sinematografi, kedalaman konten, dan kreatifitas.

Video: Judha Jiwangga, Musik: Owl City – In Christ Alone

AYO IKUTI LOMBANYA!! 😀

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/lomba-video-bellarminus-day-2018/feed/ 0
Doa Novena St Robertus Bellarminus https://unit./cm/doa-novena-st-robertus-bellarminus/ https://unit./cm/doa-novena-st-robertus-bellarminus/#respond Thu, 06 Sep 2018 08:28:38 +0000 https://unit./cm/?p=1488 lanjut

]]>
DOA

Doa novena ini didaraskan bersama selama 9 hari berturut-turut mulai tanggal 8-16 September sebelum misa harian dan mingguan di Kapel Robertus Bellarminus Mrican dan R. Doa Kampus Paingan. Diawali dengan doa pembukaan dan diteruskan dengan doa harian sesuai tanggal.

DOA PEMBUKAAN

Allah, pencipta dunia, kekuasaan ilahi-Mu dapat diketahui oleh budi manusia dari segala sesuatu yang telah Kauciptakan. Kami memuliakan Dikau karena kebijaksanaan dan kepandaian yang telah Kauanugerahkan kepada St. Robertus Bellarminus. Kami memohon pada-Mu, agar teladan hidup St. Robertus Bellarminus membantu Gereja dewasa ini dan Civitas Akademi Universitas Sanata Dharma untuk menemukan jalan dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan dunia dewasa ini yakni: kemiskinan, fundamentalisme agama, kerusakan lingkungan dan perkembangan dunia digital. Semoga dengan doa dan teladan St. Robertus Bellarminus, Engkau membantu kami untuk untuk mengupayakan persaudaraan sejati antar-umat beriman, saling bahu-membahu memulihkan kehidupan dengan menjaga kelestarian alam sekitar, serta berjuang mewujudkan kemajuan yang berkeadilan sosial.

DOA HARIAN

HARI I, 8 September

L    Marilah berdoa untuk kehidupan beragama di Indonesia.

Ya Allah Sang Damai Sejati, anugerahilah para pemimpin bangsa ini, agar mampu menjamin kebebasan dan melindungi setiap warganya untuk memeluk agama serta kepercayaannya.  Hingga pada akhirnya, setiap umat beragama dapat berziarah bersama menuju kepada-Mu dengan damai dan sukacita.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu.

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI II, 9 September

L    Marilah berdoa untuk para pemuka agama.

Ya Allah Sang Gembala Sejati, anugerahilah setiap pemimpin umat beragama di negeri ini,  agar mampu membawa umat pada kedalaman iman, sekaligus membangun kasih persaudaraan dengan sesama manusia. Semoga para pemimpin agama mampu memberikan teladan nyata, tentang iman yang hidup dalam perbuatan di tengah masyarakat yang merindukan damai.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu.

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI III, 10 September

L    Mari berdoa untuk semua umat beriman.

Ya Allah Sumber Kasih, gerakkanlah hati setiap umat beriman agar mampu mewujudnyatakan iman mereka kepada-Mu dalam hidup bersama di tengah masyarakat. Semoga kami semua berkehendak kuat untuk mengembangkan dialog dan kerjasama dalam membangun tata hidup bersama yang berkeadilan serta bermartabat

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu.

Bapa kami…

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI IV, 11 September

L    Mari berdoa untuk bumi dan seluruh isinya yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita.

Allah yang Maha Agung, pencipta seluruh Alam Raya, ajarilah kami untuk mampu menjaga dan merawat bumi tempat kami berpijak ini. Jauhkanlah dari hati kami keinginan untuk menguasai bumi dengan cara mengeksplotasinya demi keuntungan semata. Berikanlah kami hati yang tahu bersyukur atas anugerah-Mu dan kuatkanlah kehendak kami untuk memelihara alam ciptaan-Mu, serta hidup damai penuh keadilan bersama saudara-saudari kami.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu.

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI V, 12 September

L    Mari berdoa untuk setiap usaha menjaga dan merawat kehidupan.

Ya Allah Sumber Kehidupan, taburilah kami dengan daya cinta-Mu, agar kami mampu memelihara rahmat kehidupan yang telah kau anugerahkan. Jauhkanlah dari hati kami keinginan untuk menghilangkan kehidupan lewat praktek-praktek kekerasan, pembunuhan, aborsi maupun perusakan lingkungan hidup. Semoga kami berkehendak kuat untuk memperjuangkan budaya kehidupan, karena Engkaulah Allah yang hidup – dan dalam kehidupan itulah nama-Mu kami muliakan.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu.

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI VI, 13 September

L    Mari berdoa untuk keutuhan ciptaan.

Ya Allah Sang Pemelihara, gerakkanlah hati kami untuk mampu memakna kebersatuan kami dengan seluruh ciptaan-Mu. Kami menyadari bahwa bumi ini hanya dapat menjadi rumah kami bersama jika kami belajar menghormati dan memperhatikan seluruh makhluk hidup sebagai keutuhan ciptaan-Mu. Gerakkanlah hati kami untuk mampu bersolidaritas dengan semua mahkluk dan bersama membangun hari depan yang lebih baik.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu .

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI VII, 14 September

L    Mari berdoa untuk saudara-saudara kita yang miskin, lemah, terpinggirkan dan terlupakan.

Ya Allah sang pembela kaum yang lemah, kami berdoa untuk saudara-saudari kami yang miskin, mengalami penderitaan dan terpinggirkan dari percaturan sosial masyarakat. Kami memohon curahkanlah rahmat penghiburan bagi mereka, agar senantiasa bertahan dalam pengharapan dan mampu berjuang untuk hidup yang lebih baik. Ya Bapa, satukanlah penderitaan mereka dengan penderitaan Kristus, supaya mereka semua juga dimuliakan bersama dengan Dia.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu .

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI VIII, 15 September

L    Mari berdoa untuk para pemimpin bangsa.

Ya Allah sumber kebijaksanaan, semoga para pemimpin bangsa kami selalu mengusahakan terciptanya masyarakat yang berkeadilan sosial. Sudilah Engkau memberkati mereka dalam rangka memperbaiki tatanan masyarakat yang mengangkat harkat dan martabat manusia khususnya yang miskin dan lemah. Semoga pengabdian mereka kepada rakyat, bangsa dan negara membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu .

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

HARI IX, 16 September

L    Mari berdoa untuk kami yang Civitas Akademika Universitas Sanata Dharma.

Ya Allah, Bapa kami bantulah Civitas Akademika Universitas Sanata Dharma untuk menimba semangat dan keutamaan hidup dari St. Robertus Bellarminus sebagai pelindung Universitas Sanata Dharma. Semoga Civitas Akademika Universitas Sanata Dharma senantiasa setia pada visi untuk “menjadi penggali kebenaran yang unggul dan humanis demi terwujudnya masyarakat yang semakin bermartabat.” Kami mohon, semoga di tahun-tahun yang akan datang semakin terwujud sinergi, kolaborasi dan integrasi di Universitas Sanata Dharma.

U   Ya Bapa, bersama St. Robertus Bellarminus, teladan kedalaman pengetahuan dan pejuang kebenaran iman, kami berdoa dan memohon kepada-Mu .

Bapa kami …

Salam Maria … (3×)

Kemuliaan …

 

AMDG

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/doa-novena-st-robertus-bellarminus/feed/ 0
NOVENA REFORMATIO VITAE PROVINDO: Kerjasama dalam Komunitas https://unit./cm/novena-reformatio-vitae-provindo-kerjasama-dalam-komunitas/ https://unit./cm/novena-reformatio-vitae-provindo-kerjasama-dalam-komunitas/#respond Mon, 28 May 2018 04:56:38 +0000 https://unit./cm/?p=1352 lanjut

]]>
NOVENA REFORMATIO VITAE PROVINDO

Novena Reformatio Vitae Provindo adalah upaya konkrit Provindo (Serikat Jesus Provinsi Indonesia) untuk menanggapi undangan Pater Jendral dalam Jubilee St. Aloysius Gonzaga. Melalui Jubilee St. Aloysius Gonzaga, Pater Jenderal berharap terjadi pembaruan hidup dengan: 1.) penyerahan diri secara radikal kepada Yesus Kristus, 2.) memperdalam integrasi hidup (life) dan perutusan (mission), 3.) menumbuhkan kemerdekaan batin sehinga discernment menjadi cara bertindak harian dalam melayani perutusan Kristus zaman ini.

Kegiatan ini bertujuan untuk,

  • Bagi dosen, pegawai dan mahasiswa USD, untuk memperkenalkan hidup St. Aloysius Gonzaga
  • Bagi Provindo:
    • Berefleksi dan memetik buat dari hidup dari novena dan Jubilee St. Aloysius Gonzaga.
    • Mengawali langkah memeluk empat prioritas perutusan Provindo yakni: 1.) berpartisipasi mengentaskan kemiskinan 2.) memperjuangkan penghargaan terhadap keberagaman dan mengusahakan segala cara melawan radikalisme dan fundamentalisme 3.) memelihara keutuhan ciptaan dan relasi sosial yang bermartabat 4.) memeluk dunia digital untuk menawarkan kedalaman rohani dan intelektual.

Kegiatan berfokus pada 9 rahmat yang dimohon oleh Provindo yakni: 1.) keterbukaan batin untuk bertobat 2.) mendalam secara rohani 3.) mendalam secara intelektual 4.) mendalam sebagai Jesuit dan dalam spiritualitas Ignasian 5.) hidup dan karya yang atraktif, relevan dan transformatif 6.) berbagi spritualitas Ignasian 7.) membentuk karakter orang muda 8.) membangun jembatan untuk hospitalitas, kolaborasi dan jejaring 9.) memeluk empat prioritas Provindo

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

  • Waktu:
    • Jumat 1 Juni 2018 (Pengantar)
    • Minggu pertama dalam bulan (Juni 2018 s.d Agustus 2018)
    • Jumat pertama dalam bulan (September 2018 s.d Maret 2019)
  • Tempat:
    • Kapel St. Robertus Bellarminus Mrican dan Ruang Doa Paingan
  • Bentuk kegiatan:
    • Pendalaman tema bulanan lewat Talkshow hanya sampai bulan September 2018
    • Misa, Adorasi dan Novena Reformatio Vitae

 

[share title=”Share this Post” facebook=”true” twitter=”true” google_plus=”true”]
]]>
https://unit./cm/novena-reformatio-vitae-provindo-kerjasama-dalam-komunitas/feed/ 0