USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Urgensi dan Tantangan Implementasi Literasi Informasi di Lembaga Pendidikan

diupdate: 10 tahun yang lalu


“Orang mengatakan bahwa informasi adalah kekuasaan. Fenomena Panama Papers yang belakangan ramai diperbincangkan dapat memberi gambaran bahwa orang bahkan rela bekerja mati-matian untuk membocorkan dan mempublikasikan suatu informasi. Berangkat dari pentingnya mengetahui siapa yang akan menggunakan informasi dan untuk tujuan apa informasi tersebut ada, maka penting bagi kita untuk mengolah setiap informasi yang diperoleh. Jika seseorang ”melek” informasi dan dapat mengolahnya, maka hal ini akan sangat berpengaruh dalam tercapainya tujuan pendidikan, dan lebih jauh lagi dapat membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia.” ujar Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma bapak Tarsisius Sarkim, Ph.D. saat membuka seminar dan launching buku seri Literasi Informasi oleh  Perpustakaan Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan penerbit Graha Ilmu. Acara tersebut digelar pada hari Selasa 19 April 2016 di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara, Kampus 2 USD Mrican dan diikuti oleh para Pengelola Perpustakaan dan para Pustakawan di wilayah DIY & Jawa.
Bapak Arif A. selaku perwakilan dari Graha Ilmu menyebutkan dalam sambutannya, “Yang bikin merinding bagi saya dalam hidup ya ada dua, yakni perpustakaan dan kuburan. Perpustakaan karena merupakan susunan dari buku-buku yang menjadi sumber informasi dan kuburan karena merupakan susunan nisan-nisan di mana informasi berhenti diterima. Dengan demikian hal ini juga mendukung bahwa informasi amatlah penting di dalam hidup seseorang.”
Bapak Ida F. Priyanto dari Universitas Gadjah Mada menjadi pembicara pertama dalam seminar ini. Beliau yang merupakan seorang ahli di bidang information science ini mengangkat tema “Aliterasi: Tantangan Besar Literasi Informasi di Indonesia”. Aliterasi diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk membaca karena tidak tahu arti dari berbagai simbol atau tulisan, juga sebagai ketidakbiasaan atau kurangnya kebiasaan membaca oleh orang yang sebetulnya mampu membaca. Beliau juga menyebutkan bahwa ada beberapa alasan mengapa seseorang tidak suka membaca, beberapa alasannya adalah reading slowness, time pressures, rendahnya motivasi, kebosanan, dan teknologi yang semakin berkembang. Beliau menarik benang merah bahwa literasi informasi sangat terkait dengan kebiasaan membaca. Beliau juga memberikan saran, cara inovatif yang diadaptasi dari perpustakaan di negara lain: buku baru dipampang dengan posisi sampul menghadap ke arah pembaca dan  jurnal-jurnal baru dicetak (supaya halaman sampul terlihat), kemudian jurnal dan buku-buku baru ini ditempatkan pada rak display dan dilengkapi dengan kursi bagi para pembaca yang hendak menikmati koleksi-koleksi baru tersebut.
Pembicara kedua dalam seminar ini adalah Ibu Umi Proboyekti, S. Kom, M. Lis. Dari Univeritas Kristen Duta Wacana. Beliau mengangkat tema Mencari, Menemukan, dan Menggunakan Informasi secara Bertanggung Jawab”. Beliau memaparkan bahwa memeory seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni short term memory dan long term memory. Short term memory merupakan memori yang masih mudah terganggu sedangkan long term memory merupakan memori dimana seseorang telah menerima informasi, dan terkoneksi dengan informasi-informasi yang baru sehingga telah banyak informasi yang berhasil masuk. Beliau juga berbagi kisah, bagaimana beliau membangkitkan kesukaan akan membaca pada diri peserta didiknya. Beliau meminta para mahasiswa untuk membaca sebuah buku, dimana bab-bab dalam buku tersebut beliau bagi untuk dibaca dalam beberapa pertemuan. Buku yang beliau pilih merupakan buku teks yang relevan dengan materi yang akan disampaikan dalam kuliah, dengan bahasanya mudah dipahami. Setiap minggunya, perwakilan dari mahasiswa akan memaparkan tentang apa saja yang telah diperolehnya dari buku tersebut. Akan sangat terlihat antara mahasiswa yang telah membaca dengan sungguh-sungguh dan siapa yang tidak membaca. Hari-demi hari, antusiasme dan pemahaman mahasiswa akan buku tersebut semakin meningkat. Informasi dari buku tersebut telah diterima dengan baik karena kebiasaan membaca telah terbangun. Beliau juga mengingatkan bahwa sumber-sumber informasi sangatlah banyak, antara lain koleksi perpustakaan lokal. koleksi perpustakaan lain, google books, dan e-book.
Kepala Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, bapak Drs. Paulus Suparmo, S.S., M. Hum., menjadi pembicara ketiga seminar ini. “Bimbingan Literasi Informasi: Bukan Sekedar Pendidikan Pengguna Perpustakaan” merupakan topik yang beliau angkat. Beliau membahas pelatihan literasi yang baik untuk dilakukan bagi para pengelola perpustakaan. Beliau menceritakan bagaimana proses memilih bahan, mendiskusikan bahan yang dilakukan oleh para pustakawan USD. Setiap kelompok materi dikerjakan oleh sebuah kelompok, hasil diskusi kelompok kemudian dibahas di dalam pleno dalam lokakarya sehingga lahirlah buku Seri Literasi Informasi “Urgensi dan Tantangan Implementasi Literasi Informasi di Lembaga Pendidikan” ini. Kesuksesan buku ini tidak terlepas dari peran Susana Rini Kristanti, S. Pd. dan Fr, Rahayuningsih, M. A. selaku editor buku ini dan atas kebaikan hati Penerbit Graha Ilmu sehingga materi yang telah disiapkan oleh para Pustakawan USD dinilai layak untuk diterbitkan. Mari, bersama-sama kita membangun kebiasaan membaca, sebab pada akhirnya literasi informasi menjadi daya kekuatan yang perlu dimiliki oleh setiap orang dalam perjalanan hidupnya. (EEN)

  kembali